Aku ingat, salah satu masa paling berat dalam hidupku adalah di hari hari awal hijrah pertamaku. Ya hijrah pertama, hijrah dari Kediri ke Yogyakarta sekitar 5 tahun yang lalu. Dari Helmy yang biasanya sangat tergantung orangtua dan dikelilingi banyak orang yang sangat dikenal dan sangat baik sehingga mau membantu dalam hal, menuju Yogkarta, hampir tidak ada orang yang dikenal di Yogjakarta waktu itu.
Namun demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik, kuliah di UGM, tetap saja kulakukan hal itu. Dengan bermodal Bismillah aku memulai hari hari pertama ku di Jogja. Untung waktu itu aku mengenal sesosok orang yang begitu baik membantuku dalam begitu banyak hal. Seorang yang baru kukenal bahkan kulihat wajahnya ketika sampai di Jogja, namun bantuanya begitu luarbiasa selama aku di Jogja.
Hal lain yang sangat membantu ketika aku di Jogja adalah bapak bapak dan mas mas yang sholat berjamaah di masjid. Begitu jelas di ingatanku, saat itu setelah sholat masjid di Masjid Pogung Dalangan, aku sejenak memperlama dzikir ( berharap dapat menghilangkan kegalauan karena kesepian). Kemudian setelah itu ada seorang mas mas berjenggot panjang dan berjubah putih yang mendatangi ku (mungkin karena melihat ada muka baru dan dalam kondisi galau pula) kemudian mengucap salam, memberikan senyuman terbaiknya kemudian dengan lembut menanyakan namaku dan beberapa hal lainya.
Mungkin yang dilakukan mas mas waktu itu adalah sederhana, bahkan mungkin mas mas itu sudah lupa bahwa pernah memperlakukan ku demikian, namun senyuman sederhana yang diberikannya saat itu sangat membantuku mengatasi kesepianku, senyuman itu membuatku merasa seperti tidak sendirian lagi.
Selain itu di hari hari berikutnya, tidak sedikit mas mas dan juga bapak bapak yang sholat di Masjid Pogung Dalangan selalu rajin memberikan senyuman ba’da sholat fardhu, juga tentunya ustad Maulana, yang entah berapa kali beliau dengan muka dan senyuman khasnya menyalami dan menanyakan namaku. Beberapa temanku ada yang agak risih dengan caranya demikian, terutama mungkin yang pernah pacaran terus digrebeg oleh beliau. Tapi bagiku ustad Maulana adalah salah satu sosok yang senyumanya telah membantuku melewati hari hari awal hijrah pertamaku , Hijrah Ke Jogjakarta.
Ternyata, banyak hal yang menurut kita itu besar tapi sesungguhnya kecil menurut orang lain. Ternyata ada banyak hal yang menurut kita kecil tapi besar menurut orang lain.
Ternyata memahami manusia lebih sulit dari pada memahami elektron.
" Aku lebih bangga jadi Pengangguran dari pada Jadi Pegawai BUMN"
Percaya atau tidak, saya benar benar pernah mendengar pernyataan seperti itu dari salah seorang temanku. Bila difikir fikir, parah juga pernyataan salah seorang temanku itu. Dia sekarang adalah pegawai di salah satu BUMN besar dengan gaji yang besar pula. Konon dalam setahun BUMN itu bisa memberi gaji kepada pegawainya sampai 30 kali. Mungkin jutaan orang Indonesia hanya bisa bermimpi untuk dapat menjadi kariawan di perusahaan itu. Tapi kok bisa temanku ini sebegitu tidak bersyukur, bahkan dia sampai mengeluarkan statemen seperti itu. Memang setahuku, dia sangat ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri, tapi karena untuk kuliah S2 di Perguruan Tinggi bergengsi di luar negeri dengan beasiswa itu tidak mudah, sehingga lebih dari 6 bulan dia menganggur, sehingga orang tuanya memintanya untuk segera bekerja. Dan akhirnya dia meninggalkan perusahaan itu dengan denda puluhan juta rupiah hanya untuk sekedar menjadi mahasiswa (lagi) karena diterima S2 di salah satu Perguruan Tinggi di negeri Sakura.
Mungkin bagi sebagian besar orang, menjadi pegawai BUMN adalah suatu hal yang membanggakan. Memiliki gaji yang lumayan sekaligus mendapat status sosial di masyarakat. Mendapatkan kepastian masa depan dia dan keluarganya, karena ada kepastian pendapatkan sampai dia pensiun. Siapa yang tidak ingin seperti itu. Tapi itulah manusia, terlalu kompleks, terlalu rumit, terlalu heterogen, sampai sampai ada orang yang lebih bangga menjadi pengangguran dari pada mendapatkan itu semua.
Saya juga memiliki teman lain yang melakukan pilihan hidup yang ekstrem yang menurutsebagian besar orang, dia telah meninggalkan sesuatu yang besar dan langka. Teman saya ini adalah mahasiswa Fakultas Teknik UGM, berkat kecerdasanya selama kuliah dia mendapat beasiswa dari salah satu perusahaan MIGAS kelas dunia. Tapi bukan itu yang besar dan luar biasa, teman saya ini juga mendapat beasiswa S2 di salah satu Universitas terbaik dunia di Inggris dari perusahaan yang sama. Sungguh kesempatan yang luarbiasa dan dahsyat, ketika jutaan bahkan milyaran orang hanya bisa bermimpi mendapatkan beasiswa S2 di salah satu universitas terbaik dunia di Inggris, teman saya ini malah dengan mudah ditawari beasiswa oleh salah satu perusahaan migas kelas dunia. Dan tidak hanya itu, bila yang memberi beasiswa adalah perusahaan Migas kelas dunia maka besar kemungkinanya teman saya ini akan direkrut oleh perusahaan tersebut paska lulus S2 nya, dan bukan hal yang mustahil pula seorang lulusan S2 dari universitas terbaik di dunia yang berkerja di perusahaan migas kelas dunia mendapatkan gaji dua digit juta rupiah.
Sebuah kesempatan luarbiasa, sebuah kesempatan untuk meningkatkan harkat hidup tidak hanya bagi diri pribadi teman saya itu tapi juga bangsa dan almamaternya dan juga agamanya. Tapi bagi dia ada hal yang jauh lebih besar dan penting dari pada itu, Ada amanah yang harus teman saya emban paska lulus S1. Dia harus segera menjadi tulang punggung keluarga. Teman saya itu akhirnya memilih untuk untuk tidak menerima beasiswa S2 di salah satu universitas terbaik dunia tersebut dan peluang mendapat gaji tiga digit juta rupiah. Dia memilih sesegera mungkin bekerja, dan untungnya dia mendapat pekerjaan di salah satu BUMN di Sumatra. Bagi teman saya ini, amanah untuk dapat sesegera mungkin meringankan beban ekonomi keluarga jauh lebih besar dari pada mendapat beasiswa S2 di salah satu universitas terbaik di dunia.
Ternyata hal yang besar menurut kita bisa jadi adalah hal yang kecil menurut orang lain, dan begitu pula sebaliknya. Manusia sangat heterogen, dan memiliki sifat, watak, perilaku, cita cita, mimpi, dan pilihan hidup yang berbeda beda. Perlu kedewasaan yang tinggi untuk dapat memahami berbagai perbedaan itu. Namun sebagai ummat Islam, tidak semua perbedaan, tidak semua sifat, tidak semua cita cita, tidak semua pilihan hidup dibenarkan. Ada batasan batasan, ada aturan aturan, ada pedoman pedoman, dan semua itu sudah dengan jelas dan detail dijelaskan di AlQuran dan Hadits. Sehingga ketika mimpi dan pilihan hidup kita bertentangan dengan Syariah, maka kita harus segera merubahnya, merubahnya menjadi sesuai dengan syariah, bahkan merubahnya menjadi mimpi dan pilihan hidup yang sangat dianjurkan oleh Al Quran dan Hadits. Dan apabila ada teman atau saudara kita yang memiliki mimpi atau pilihan hidup yang bertentangan dengan Al Quran dan Hadits, kita berkewajiban untuk mengingatkanya. Sehingga batasan benar dan salah itu tidak sekedar besar dan kecilnya perkara itu menurut perasaan atau pikiran kita, tapi benar atau salahnya suatu perkara itu ditentukan oleh sesuai atau tidaknya dengan syariah.
bersambung ke bagian 2
Berikut adalah daftar blog atau website pribadi para teman teman, guru guru, dosen dosen, ustad ustad saya.
Berisi cerita cerita inspiratif, opini opini dari sudut pandang berbeda, pengalaman hidup yang luar biasa, dan berbagai tulisan lain yang insyaAllah bermanfaat.
Silahkan dikunjungi. :D
Adian Husaini
Fathurrahman Kamal
Fikri Waskito
Ahmad Tukiran Maulana
Salim A. Fillah
Sunu Wibirama
Eka Firmansyah
Igi Ardiyanto
Astria Nur Irfansyah
Lukito Edi Nugroho
Suning Kusumawardani
Fajar Budi Suryawan
Rifqi Ikhwanuddin
Jupri Supriyadi
Dimas Agil
Bintang Gumilang
Alvi Syahrina
Ikhwan Luthfi
Bekti Palupi
Ahmad Fikry M
Fajli Mustafa
Rofiq Azhari
Fadhil Tresna Nugraha
Iqbal Muharram
Sofiet Isa M. Setia Hati
Alfian Kusuma Nugraha
Siti Koiromah
Ismi Ismianti
Idriwal Mayusda
Hari Maghfiroh
Ahmad Nasikun
Fayruz Rahma
Ade Setio
Yurisa
Tetty Harahap
Aep S Farid
Zuniar WBK
Aditya martha Wijaya
Niam Tamami
Irfan Agus S
Rezal Maghrum
Ridwan Kharis
Fahmi Basyaiban
Didik Hari Purwanto
Yulian Anindito
Thoriq Arridho
Whisnu Febry Afrianto
Wahyu Setiyawan
Pramudya Arif
Ridwan Budiman
Hidayati Mardika Sari
Teguh Afandi
Bagus Brahmantya Prasetya Gautama
Tulus Hamdani
Arief Hartawan Putra
Hatta Efendi
Penalar Arif Budiman
Julyar Prasetyo
Kurniawan Hendra Purnama
Wulan R T
Rizky Aliet
Dwi Eko Sapto R
Fahim Jarmiko
M Rijallul Kahfi
Yunus Hadi Sisworo
Canggih Puspo Wibowo
Anung Darmawan
Ashif Aminulloh
Novrian Fajar Hidayat
Yanuardhi Abe
Friski Cahya Nugraha
Catur Edi Gunawan
Kita tidak akan bahagia karena keinginan kita, namun kita bahagia karena rasa syukur kita (Aa Gym)
Dulu di kelas 6 SD, tentu kita dan tentunya orang tua kita sangan INGIN kita lulus Ujian Nasional, bahkan kalau bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Sehingga dengan nilai yang memuaskan itu dapat digunakan untuk mendaftar di SMP yang baik. Diterima sebagai siswa SMP yang terbaik di kota merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang menjadi mimpi kita dan orang tua kita dahulu.
Namun ketika diterima di SMP yang baik, ternyata keinginan kita dan orang tua kita tidak cukup sampai disitu. Kita INGIN ketika di SMP tersebut kita dapat berprestasi, menorehkan sesuatu yang membangkakan keluarga, dan tentunya dapat lulus dengan nilai yang memuaskan (lagi) dan dapat diterima di SMA yang baik tentunya.
Ketika sudah diterima di SMA yang baik, ternyata hal tersebut masih berulang, kita dan orang tua kita INGIN agar kita diterima tidak hanya di universitas yang favorit, tapi juga jurusan yang “dianggap” memberikan masa depan yang baik untuk kita nanti. Sehingga tidak sedikit biaya, waktu luang dan berbagai pengorbanan lain yang dikeluarkan untuk mencapai hal tersebut. Mulai dari ikut pelajaran tambahan di berbagai LBB, membeli bertumpuk tumpuk buku contoh soal tahun tahun sebelumnya, bahkan rela mengorbankan waktu luang dan bersantai.
Ketika sudah diterima di PTN favorit, ternyata tantangan dan keinginan bukanya sudah selesai, namun justru ke-INGIN-an dan cita cita yang ingin dicapai menjadi semakin tinggi. Dulu di SMA tidak pernah berfikir tentang berbagai lomba dan organisasi yang dapat diikuti di Universitas, namun ketika kuliah tidak hanya ingin mengikuti berbagai lomba dan organisasi tersebut, tapi juga ingin menorehkan prestasi di berbagai lomba lomba dan organisasi yang ada di Universitas. Ketika SMA tidak terlalu difikirkan mau bekerja dimana setelah lulus dari PTN tersebut, namun ketika tahun akhir kuliah, justru sudah mulai pasang target kemana setelah lulus, dan bahkan apa yang sudah dapat diraih di sekian tahun kedepan. Tidak sedikit yang mencoba berwiraswasta dengan mimpi dan keinginan yang justru lebih tingginya dengan yang hanya berharap diterima di instansi tertentu paska lulus kuliah.
Begitu sayangnya Allah, berkat usaha, kerja keras dan doa kita berbagai ke-INGIN-an tersebut dapat kita capai, walau barangkali ada beberapa keinginan yang Allah tangguhkan atau bahkan ganti dengan yang lebih baik. Namun pertanyaanya, ketika hari hari kita dipenuhi oleh pikiran ingin ini dan ingin itu, dapat mencapai ini dan dapat mencapai itu, kapan BERSYUKUR-nya?
Paska kuliah, ketika sudah memulai karir sebagai profesi tertentu, kita INGIN dapat membeli ini dan membeli itu, ketika Allah berikan, kita INGIN memiliki yang lain, yang lebih baik dan lebih banyak lagi. Dan Allah masih begitu sayangnya sehingga masih memberikan ke-INGIN-an kita, namun sekali lagi pertanyaanya kapan BERSYUKUR-nya?
Ketika Allah memberikan berbagai ke-INGIN-an kita tersebut, seringkali sebelum kita “sempat” ber-SYUKUR sudah muncul ke-INGIN-an dan semangat yang membara untuk mencapainya. Bukan BAHAGIA yang kita dapat kan, justru kembali rasa gelisah yang muncul, gelisah untuk berusaha mencapai ke-INGIN-an kita, juga gelisah karena takut ke-INGIN-an kita tidak dapat kita dapatkan.
Kita tidak akan bahagia karena ke-INGIN-an kita, namun kita BAHAGIA karena rasa SYUKUR kita (Aa Gym)
Di sisi lain, bisa jadi banyak sekali masyarakat yang menurut kita “gagal”. Bagaimana tidak gagal, mereka tidak dapat sekolah di sekolah sebaik sekolah kita, tidak dapat memiliki hal hal yang kita miliki, tidak dapat melakukan hal hal yang dapat kita lakukan, ataupun tidak memiliki kemampuan atau keilmuan sebaik milik kita. Namun tunggu dulu, walaupun “karunia dan nikmat” yang Allah berikan kepada kita seolah lebih banyak dari mereka belum tentu kita lebih bahagia dari mereka.
Bagi sebagian masyarakat yang sangat kekurangan, dapat mengetahui apa yang dapat dimakan di hari esok adalah sebuah hal yang tidak setiap hari mereka rasakan. Begitu berat beban kehidupan bagi mereka, sehingga dalam hal pendidikan, ketika dapat menyekolahkan anak hingga SMA saja sudah merupakan prestasi yang membanggakan.
Bagi sebagian masyarakat yang lain, ketika pendidikan tinggi merupakan keharusan. Bisa jadi ketika anaknya tidak dapat diterima di PTN top 5 saja sudah merupakan hal yang sangat memalukan baginya. Sehingga mereka rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memberikan pelajaran tambahan kepada anaknya atau memilihkan sekolah yang terbaik sejak kecil untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya.
Relatifnya standar
Bagi sebagian masyarakat, dapat memperoleh pekerjaan saja merupakan hal yang membanggakan. Tidak sedikit jumlah pengangguran bahkan pengangguran berpendidikan di negara ini. Begitu susahnya mencari pekerjaan bahkan bekerja 10 jam sehari hanya dengan gaji yang hanya cukup untuk membeli makan mau mereka kerjakan.
Bagi sebagian masyarakat yang lain, ketika masalah papan sandang dan pangan sudah bukan lagi hal yang membebani, apa yang difikirannya sudah bukan lagi apa yang dimakan di hari esok. Tapi menjadi mobil apa yang akan dibeli di hari esok. Punya Avanza merasa tidak puas, sehingga ganti Innova. Karena temannya ada yang membeli CR-V baru, dia ingin pula membeli yang baru. Ketika melihat Alphard di showroom maka mobil mahal itu terbeli juga.
Relatifnya standar
Bagi sebagian masyarakat, bekerja menjadi pegawai negeri, atau mungkin pegawai BUMN atau bahkan pegawai perusahaan multinasional merupakan hal yang sangat membanggakan. Memiliki kepastian akan masa depan, dan ketentraman dalam hidup, mungkin itu beberapa alasan mengapa menjadi pegawai terutama yang memberikan penghasilan yang besar menjadi cita cita sebagian masyarakat.
Namun bagi sebagian masyarakat yang lain, menjadi pegawai, bekerja di perusahaan, bekerja untuk orang lain, diperintah oleh orang lain merupakan hal yang memalukan. Menjadi wiraswasta yang menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, memiliki kesempatan untuk menjadi super kaya, sehingga berpeluang untuk memberikan kontribusi yang lebih kepada masyarakat merupakan pilihan.
Relatifnya standar
Bagi sebagian masyarakat menjadi aktifis partai politik merupakan suatu kebanggaan, karena aktif di partai politik, menjadi tim sukses bahkan menjadi caleg kemudian menjadi anggota DPRD atau bahkan lebih dari itu menurut mereka merupakan “tindakan” nyata untuk memperbaiki bangsa ini, tentunya selain karena menjadi petinggi politik berpeluang untuk dapat “hidup enak” dan penuh penghormatan dimana mana.
Namun bagi sebagian masyarakat yang lain, menjadi aktifis politik merupakan suatu kesia sian bahkan mereka memiliki anggapan yang sangat jelek kepada semua politikus di Indonesia ini. Mungkin karena pemberitaan di media, atau memang karena mereka sangat tidak puas dengan kinerja politikus di Indonesia. Yang jelas mereka sangat risih dan anti politik.
Relatifnya standar
Bagi sebagian masyarakat, meninggalkan sholat atau melaksanakan aktifitas aktifitas maksiat merupakan hal yang biasa. Tidak ada rasa takut atau rasa bersalah ketika melaksanakanya, bahkan tidak sedikit yang tidak malu menampakkan di tempat umum, bahkan mengajak temanya untuk menjalankan aktifitas aktifitas maksiat tesebut.
Namun bagi sebagian masyarakat yang lain, ketika Al Quran dan hadits menjadi panduan dalam semua aktifitas hidupnya. Jangankan meninggalkan sholat, telat melaksanakan sholat saja sudah muncul rasa bersalah dan takut kepada Allah yang luar biasa. Ketika mengetahui amal yaumi saudaranya lebih banyak menjadi motivasi untuknya untuk beribadah lebih giat dan lebih baik lagi.
Relatifnya standar
Bagi sebagian masyarakat, melaksanakan dosa seperti judi, minum khomr bahkan berzina merupakan hal yang biasa. Bahkan merupakan kebanggaan ketika mereka memiliki pengalaman yang lebih baik dari sebagian temannya yang lain, ketika mereka pernah melaksanakan jenis dosa tertentu di tempat tetentu yang belum pernah dilakukan temanya.
Namun bagi sebagian masyarakat yang lain , jangankan melaksanakan maksiat, melihat orang lain berbuat maksiat saja sudah menjadi ketakutan yang luar biasa, karena takut dimintai pertanggungjawaban karena dirinya tidak dapat berbuat apa apa untuk mengingatkan saudara nya yang masih bermaksiat tersebut. Sehingga tidak sedikit orang orang yang berkelompok untuk berusaha mengingatkan saudaranya yang masih senang bermaksiat baik dalam kajian kajian, buletin, atau bahkan mengingatkan dengan mendatangi langsung.
Relatifnya standar
Begitu relatifnya standar di bagi berbagai komunitas manusia, bahkan sangat ekstrim, ada yang oleh sebagian kelompok dianggap baik tapi bagi sebagian kelompok yang lain dianggap sebagai hal yang sangat buruk. Sehingga agar kita dapat menganggap baik hal yang baik kita harus menjadi bagian kelompok yang menganggap baik hal yang baik. Begitu pula dengan hal yang buruk, agar kita dapat menganggap buruk hal yang buruk maka kita harus menjadi bagian kelompok yang memiliki pemikiran yang seperti itu.
16 abad yang lalu Rasulullah mengilustrasikan hal ini dengan tukang parfum dan tukang pandai besi. Kalau kita ingin mendapatkan bau harum maka bertemanlah dengan tukang parfum, karena walaupun kita tidak dikasih parfum, setidaknya kita dapat mencium baunya. Begitu pula, ketika kita tidak ingin terkena debu, atau bara api jangan berteman dengan pandai besi.
Agar standar kita tidak relatif, tidak tergantung oleh lingkungan kita, kita harus berpengang pada hal yang tidak relatif kebenaranya, yang mutlak kebenaranya, yaitu Al Quran dan Hadits. Sehingga walaupun lingkungan kita menganggap perbuatan maksiat tertentu menjadi hal yang biasa, karena kita memiliki pegangan yang mutlak dan tidak relatif, maka kita tetap menganggapp perbuatan maksiat tersebut sebagai perbuatan maksiat yang harus dijauhi.
Namun untuk menjaga standar ini, tentu tidak mudah ketika sendiri, maka walau kita memiliki standar yang mutlak (baca : Al Quran dan Hadits) kita tetap perlu komunitas baik, komunitas yang dapat bersama sama menjaga standar baik kita. Bahkan ketika kita masih belum dapat mencapai standar tertentu, dengan komunitas yang baik, maka kita akan lebih termotivasi untuk mencapai standar agar lebih sesuai dengan Al Quran dan Hadits. Demikian pula ketika tanpa kita sadari standar kita semakin menurun, komunitas baik kita dapat mengingatkan kita untuk kembali menuju standar yang lebih baik.
Ya Allah tunjukkanlah yang baik itu nampak baik bagi kami, dan berikan kami kekuatan untuk melaksanakanya.
Ya Allah tunjukkanlah yang jelek itu nampak jelek bagi kami, dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya.
ahmadhelmy.blogspot.com adalah blog pribadi milik saya, Ahmad Helmy Waliyullah, seorang pemuda yang sedang belajar dan berusaha untuk membagikan apa yang telah dipelajarinya. Blog ini dibuat sebagai upaya pribadi untuk dapat membagikan pemikiran di kepala saya agar tidak hanya menjadi angan angan kosong yang tidak berarti di kepala saya.
Blog ini berjudul "Belajar Memahami Makna Kehidupan", sehingga isi dari blog ini adalah hasil belajar saya terhadap berbagai aspek kehidupan dan mencoba memaknainya dan membagikanya di blog ini. Kehidupan yang saya maksud adalah kehidupan saya sebagai seorang pelajar, warga masyarakat, warga negara, dan tentunya kehidupan saya sebagai seorang muslim yang harus selalu berlandaskan Al Quran dan Hadits dalam setiap hal, termasuk dalam permuatan blog ini. Namun, keterbatasan saya sebagai manusia tentu hanya dapat membagikan hal hal yang terbatas yang saya mampu dan tau, sehingga blog ini hanyalah sebagian kecil dari makna kehidupan yang begitu luas dan kompleks.
ahmadhelmy.blogspot.com berisi opini, tanggapan, dan pemikiran saya terhadap berbagai hal yang muncul di masyarakat, juga yang saya harapkan dapat muncul di masyarakat, yang seharusnya diketahui oleh masyarakat. Blog ini juga memuat kisah pribadi saya atau orang orang disekitar saya yang saya harap dapat memberikan inspirasi bagi para pengunjung. Tidak jarang juga saya mem-posting beberapa hal yang menurut saya menarik, baik itu berasal dari tugas tugas kuliah, atau bahkan sekedar copy paste dari berbagai media.
Karena blog ini adalah blog pribadi saya maka semua isi dan pernyataan yang ada didalamnya berasal dari pemikiran pribadi saya. Blog ini tidak berhubungan dengan lembaga, organisasi atau kelompok manapun, juga termasuk dengan lembaga, organisasi atau kelompok yang saya tergabung didalamnya. Sehingga isi dan atau pemikiran yang ada di dalam blog ini tidak selalu mencerminkan lembaga, organisasi atau kelompok manapun yang saya tergabung didalamnya.
Tentu besar harapan saya agar blog ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengunjung dan juga kemajuan masyarakat secara luas. Karena blog ini hanyalah buatan manusia, tentu banyak kesalahan, banyak kekurangan didalamnya, tidak seperti Al Quran yang pasti terjaga dan dijamin keaslianya oleh Allah. Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat saya tunggu untuk membuat blog ini semakin baik dan bermanfaat.
Administrator
Ahmad Helmy Waliyullah
(Sebuah analisis bahasa tanpa literatur yang jelas dan sangat subjektif)
Artinya sama kan? iya, emang semua kata tersebut bermanka sama, kata bu guru bahasa Indonesia, kata kata tersebut adalah sama sama kata ganti orang kedua. Tapi meskipun maknanya sama, seringkali saya menemukan berbagai orang yang bingung memilih kata apa yang tepat untuk digunakan ketika sedang bercakap cakap. Mungkin kamu juga pernah merasakanya.
Seringkali ketika bercakap cakap, ada orang yang biasa menggunakan kata kamu, tapi karena lawan bicaranya menggunakan kata lo (dan gue), maka kemudian baik orang pertama dan kedua akan sama sama kikuh, karena "kamu" dibalas dengan "lo", dan "lo" dibalas dengan "kamu". Beberapa indikator paling jelas kalau mereka sedang kikuh adalah ketika mereka tau kalau ada perbedaan penggunaan kata ganti orang kedua maka mereka:
1. Mengucapkan kata ganti dengan lebih pelan (bisa karena ragu, kikuh, dll)
2. Mengucapkan kata ganti yang berbeda; misal dari "lo" ke "kamu", atau sebaliknya.
3. Menunda sekian detik sebelum mengucapkan kata ganti; bisa karena gak enak atau karena berfikir.
4. Menggunakan kata ganti yang kaku atau kurang lazim, misal "dirimu"
Ternyata penggunaan kata ganti ini juga menimbulkan kesan tersendiri, ada yang menimbulkan kesan romantis, agamis, atau bahkan angkuh. Berikut adalah kesan yang ditimbulkan penggunaan kata ganti secara sosiologi menurut pengamatan saya (nah!! saya juga mulai bingung menggunakan kata ganti orang pertama, pakai "saya", "aku", atau "ane"; karena dalam percakapan sehari hari tiga kata ini yang sering; atau mungkin selalu kugunakan). Berikut analisisnya :
Aku dan Kamu; Bagi orang Jawa (jawa timur, jawa tengah) mungkin menggunakan aku dan kamu ketika berbicara dalam bahasa Indonesia adalah hal yang biasa. Tidak ada kesan spesial yang ditimbulkan ketika menggunakan kata ganti aku dan kamu, tapi bagi orang jawa barat dan sekitarnya penggunaan Aku dan Kamu konon bisa memunculkan kesan romantis. Saya jadi ingat cerita teman saya yang asli Jogja (Cowok) ketika mengikuti suatu kegiatan mahasiswa yang diadakan oleh salah satu perusahaan Otomotif di Jakarta. Kegiatan itu diikuti oleh berbagai Kampus di Indonesia, sehingga disana ditemui juga mahasiswa dari Jakarta dan Bandung. Ketika dia ngomong dengan cewek (yang kebetulan orang Jakarta) dengan menggunakan kata ganti aku dan kamu,
si cewek bilang, "eh lo kok ngomongnya romantis banget sih"; GLODAK!!! temanku jawab, "Romantis dari mananya!?",
Ceweknya bales lagi, "habisnya lo manggil gue nya pake kamu segala sih".
Gua dan Lu; Kalau kita nonton TV yang bersetting anak muda Jakarta, kata ganti ini yang hampir selalu digunakan. Ya... memang karena kata ganti ini banyak di pakai di sekitar jawa barat. Tapi, entah kenapa, bila mendengar orang menggunakan kata ganti ini ketika bercakap cakap di kampus (kebetulan kampus saya di Jogja), rasanya kok terasa aneh dan muncul kesan angkuh. Walaupun tentu orang yang menggunakan kata ganti ini tidak berniat untuk angkuh, tapi menurut sebagian besar mahasiswa Jawa yang saya kenal, penggunaan kata ganti "Gua" dan "Lu" menimbulkan kesan angkuh.
Koe dan sampeyan; dua kata ganti orang kedua dari bahasa Jawa ini sama sama berarti "kamu" dalam bahasa Indonesia. Namun, entah kenapa saya lebih nyaman menggunakan kata sampeyan ketimbang koe ketika ngobrol dengan bahasa Jawa (bahkan terkadang juga dalam bahasa Indonesia). Rasanya tabu dan bagiku terkesan kasar menggunakan kata Koe. Kalau tidak salah, dulu pernah kudengar (pas masih kecil), "koe" itu artinya anak dari monyet. Entah benar atau salah, yang jelas hal itu yang membuatku menjadi tidak nyaman menggunakan kata ganti koe dalam bercakap cakap. Kata "sampeyan" lah yang sejak kecil dibiasakan dikeluargaku. Namun, di rumah seringkali kata "sampeyan" disingkat menjadi "pean" atau "mean"; walaupun hanya disingkat, tetapi entah kenapa bila ada orang yang menggunakan kata "pean" atau "mean" ketika berbicara denganku terasa lebih dekat dan hangat. Mungkin karena kata "mean" lah yang kugunakan untuk berbicara dengan orang orang terdekatku sejak kecil (bapak, ibuk, adik dan beberapa sepupu-sepupu).
Dirimu dan You; Dua kata ganti orang kedua yang paling tidak nyaman untuk kudengar bila digunakan dalam suatu kalimat atau percakapan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Bila ada orang yang menggunakan dua kata itu, entah kenapa muncul kesan kurang akrab sehingga komunikasi menjadi kurang nyaman. Terlebih kata ganti "Dirimu", sering kudengar bila seseorang memiliki masalah dalam menentukan kata ganti yang pas ketika berkomunikasi. Kalau "you", entah kenapa, rasanya ndak pas banget ketika kata itu digunakan dalam kalimat berbahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Tapi entah kenapa ada juga beberapa orang yang masih sering menggunakanya.
Ana, ane, anta dan antum. Keempat kata ganti orang dari bahasa arab (kecuali ane yang "di-arab2kan) yang sering digunakan oleh kalangan sholeh (atau sok sholeh). Sehingga dengan menggunakan kata ganti ini muncul kesan sebagai orang yang sholeh (atau golongan sholeh, atau golongan orang yang dianggap sholeh, atau bahkan dari golongan ormas Islam atau bahkan parpol Islam tertentu). Ana dan ane bermakna sama yakni saya. Tapi, saya rasanya lebih nyaman menggunakan kata ane ketimbang ana (biasanya sih kugunakan ketika bersama komunitas orang2 sholeh). Mungkin karena kata ane, masih terkesan ke arab arab-an namun tidak terlalu memunculkan kesan sok sholeh dan bahkan kata ane sekarang banyak digunakan di bahasa online, utamanya karena dipopulerkan oleh para KASKUS-esr beberapa tahun terahir. Sedangkan kata ana, lebih memunculkan kesan sholeh, sehingga saya kurang nyaman menggunakanya, munkin karena masih murni bahasa Arab dan nyatanya hanya dipakai oleh orang orang yang sholeh atau sok sholeh tadi, maksud saya sangat jarang dipakai di bahasa lain (seperti ane yang dipakai komunitas Internet atau kaskus-ers misalnya).
Akhirnya, sebagai penutup saya ingin menyatakan bahwa analisis ngawur ini adalah analisis tanpa dasar teori yang jelas dan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hanya berdasarkan analisis personal saya berdasar pengalaman pribadi saja. Semoga bermanfaat.
Pernah kamu mengucapkan kalimat ajaib itu? Kalimat yang terkesan remeh, orang yang mengucapkan seolah adalah loser, adalah orang yang salah dan kalah, yang mengucapkan hanyalah orang orang yang menjadi peran pembantu dalam suatu event kehidupan, gak layak banget lah disebut pemimpin. Tapi bagiku, 4 kata itu adalah kata yang keren dan ajaib. Dan orang yang bisa mengucapkanya adalah orang yang keren, bahkan ajaib. Kuamati, dalam berbagai hal dan event, baik itu diskusi, rapat, atau bahkan dalam kehidupan sehari hari, semakin jarang ada orang yang begitu dewasa dan gentle sehingga berani mengucapkan kalimat yang hanya terdiri dari 4 kata tersebut. Maaf saya yang salah.
Kalau meminta maaf ketika semua orang sudah tau kalau kita yang salah, misal kita ketahuan mencuri, mencontek, atau melakukan kesalahan yang lain, terus kita minta maaf. Oh.... itu biasa, dan bagiku itu sangat biasa, dan tidak ajaib. Kalau sampai orang yang jelas jelas salah terus tidak minta maaf, itu benar benar naudzubillah. Dan misal seandainuya Kalau kita tidak dapat menepati janji atau lupa melakukan sesuatu terus berani mengucapkan 4 kata tersebut, itu baru lumayan, tapi sori.... itu belum pada level keren dan ajaib.
Yang keren, menurutku, adalah ketika orang lain (atau sebagian orang lain) menganggap kalau kita melakukan atau mengatakan atau memperjuangkan suatu yang benar, padahal kita tahu kalau kita yang salah. Dan kita baru sadar kalau yang kita perjuangkan kurang baik, atau ada yang lebih baik, dan kita dengan tegas berani mengucapkan 4 kata ajaib itu. Wuiiihhhh bagiku itu keren banget.
Seringkali dalam suatu diskusi atau rapat atau forum yang lain, kita terpancang untuk memperjuangkan ide kita, kita bangga bila ide kita diterima, kita bangga bila kita bisa menguasai forum, kita bangga dipuji dan dianggap cerdas. Namun seringkali kita lupa, ternyata seringkali kita disana terlalu sibuk menampakkan diri sendiri bukan untuk memperjuangkan kebenaran, bukan untuk memperjuangkan kebaikan, bukan untuk memperjuangkan kemaslahatan bersama. Ngerasa ndak? atau bahkan menurutmu justru hal yang seperti ini yang benar, seperti lomba debat, barangsiapa yang paling bisa mempertahankan argumennya, usulanya, statemenya, entah itu benar atau salah, entah dia sendiri menganggap itu baik atau buruk, tetap saja diperjuangkan. Menurutmu demikian yang baik? Ih...... klo aku sih naudzubillah.
Emmmmm........ beberapa kali, ketika rapat dengan orang orang yang seharusnya sholeh (iya dong, wong rapatnya namanya syuro kok), kutemui beberapa orang yang nampak cerdas. Mereka sangat aktif di forum syuro itu, memberikan berbagai usulan dan tanggapan, tidak jarang juga mengkritisi usulan usulan yang diberikan oleh anggota syuro yang lain. Tapi, orang orang yang seharusnya berpeluang menjadi orang yang keren, tapi entah kenapa dimataku ke-keren-an mereka seolah runtuh begitu saja. Ketika kulihat ada beberapa diantara mereka begitu semangat memperjuangkan ide mereka, padahal mereka tahu kalau ada ide temanya yang lebih baik. Ya, seharusnya mereka tau bahwa ada ide temanya yang lebih baik, Ya seharusnya dia sadar bahwa apa yang dikatakanya kurang tepat dan ada yang lebih baik. Tapi, entah mengapa, mereka masih dengan semangat memperjuangkan idenya itu, dengan berbagai alasan, dengan berbagai logika logika yang dibuat semanis mungkin. Mengapa tidak diucapkan saja 4 kata ajaib itu ketika kita tau kalau kita yang salah, maaf saya yang salah. Bagiku....., orang yang seperti itu tidak keren.
Bukanya justru kita senang kalau ide kita tidak dipakai, karena kalau ide kita dipakai, maka kita adalah orang yang paling bertanggungjawab atas berbagai kemudharatan yang muncul akibat ide kita itu. Pertanggungjawaban di dunia sih paling paling tidak begitu terasa, tapi di akherat?
Tapi yang namanya syetan pintar sekali menggoda manusia, bahkan dengan cara yang halus. Kita merasa sangat keren, sangat bangga bila ide kita dipakai. Kita dengan ujubnya menyampaikan di berbagai tempat, eh itu karena ide saya loh, eh itu usulan saya loh, eh saya berkontribusi banyak loh di rapat kemarin. MasyaAllah.......

Pertanyaan retoris diatas pernah ditanyakan seorang teman kepadaku, apakah kujawab? tentu tidak.... Aku lebih memilih diam dan coba merenungkan apa maksud pertanyaan itu. Aku juga yakin jika kamu mendapat pertanyaan itu, kamu akan memilih diam. Ya memang itu yang diharapkan temanku, dia tidak membutuhkan jawabanku, yang dia butuhkan adalah proses perenungan yang aku lakukan. Untuk apa aku kuliah, dan untuk apa aku lulus.
Pertayaaan yang ditanyakan oleh orang yang memilih untuk lulus lebih lambat. Pertanyaan yang jadi pembenaran baginya untuk lulus telat, agar orang disekitarnya merasa bahwa dia punya alasan dan tujuan mengapa dia lulus telat, bukan sedekar keterpaksaan karena keadaan yang tidak dapat dihindarkan. Bisa jadi seperti itu yang ada dipikiran orang yang bertanya pertanyaan itu, dan juga di pikiran orang orang yang diberi pertanyaan atau mendengar ada pertanyaan seperti itu. Bisa jadi?
Tidak perlulah aku menerka nerka apa yang difikiran orang. Toh Rosulullah mengajarkan kita untuk melihat yang dzahir dari seseorang, bukan yang batin. Karena memang kita tidak memiliki kemampuan untuk itu, kalaupun dipaksakan akan muncul dzon dzon yang tidak baik yang justru menjadi jalan syetan untuk membuat kita memunculkan fitnah, atau setidaknya ghibah.
Tidak perlulah aku menerka nerka orang lain, cukup lah aku bercerita apa yang kurasakan. Aku pernah meng-update status facebooku dengan pertanyaan yang sama. Tentu bukan karena tanpa alasan, status facebook tidak jarang adalah refleksi perasaan atau pikiran dari pemilik akun tersebut. Ya, begitu juga aku. Setelah sadar bahwa IP semester terahir yang sangat jauh dari target duh..... Aku jadi semakin memikirkan pertanyaan itu. Ya, bisa jadi ini adalah diriku yang tidak mau disalahkan karena aku akan lulus dan ini berarti aku akan dianggap negatif (atau setidaknya tidak positif) oleh orang orang disekitarku. Mencari pembenaran bahwa lulus telat bukanlah suatu hal yang jelek asalkan punya alasan yang jelas (atau sok diperjelas ; baca: dipaksakan diperjelas).
Ya nampaknya aku memang sedang mencari cari pembenaran itu, juga karena itu pula aku post tulisan ini. Bila mau kita tarik ulang ke belakang, apa sih tujuan kita kuliah (tentunya pertanyaan bagi yang kuliah).
Ingin mendapatkan kehidupan (pekerjaan, jabatan) yang baik?
Ingin mendapatkan Ilmu yang bermanfaat?
Ingin berdakwah?
Atau karena tidak ingin dianggap pengangguran atau loser oleh orang lain bila tidak kuliah?
Bila lulus telat yang dimaksud tidak lebih dari 50% dari waktu lulus yang normal (misal untuk S1 yang seharusnya 4 tahun menjadi tidak lebih dari 6 tahun) menurut saya bila tujuan kuliah adalah yang aku tulis diatas, tujuan itu masih bisa dicapai. Mendapat pekerjaan atau jabatan yang baik insyaAllah masih bisa didapatkan, Ilmu yang bermanfaat apa lagi...... Dengan waktu kuliah yang lebih lama, maka kita berpeluang untuk mendapat ilmu dari gudang Ilmu (baca universitas) yang lebih dari yang lain. Salah satu dosenku pernah bilang, menjadi mahasiswa adalah peluang yang luar biasa. Banyak kesempatan dalam hidup ini yang hanya dimiliki oleh mahasiswa. Mulai dari berbagai perlombaan yang hanya diperuntukan bagi mahasiswa, peluang berorganisasi yang lebih bebas dan luas, peluang belajar yang luarbiasa. Contoh konkrit lah, bila kita sebagai mahasiswa maka apabila kita melakukan kesalahan di Masyarakat, maka kita masih bisa dimaklumi, atau ketika kita meminta data atau informasi tertentu ke suatu instansi tertentu, label sebagai mahasiswa akan membuat kita jauh dipermudah untuk meng-akses informasi itu.
Tentu sekali lagi, bila kita lulus telat karena tujuan yang baik, ya.... setidaknya seperti yang tak tulis di atas lah. Kalau lulus telat karena males mengerjakan kuliah dan tugas, tentu lain lagi ceritanya.
Tidak sedikit kutemui orang orang hebat di Kampusku yang memang sengaja lulus telat karena ingin melakukan hal yang besar. Mulai dari membuat bisnis yang besar, tampil di KICK ANDY sampai dengan berkali kali masuk PIMNAS, itu semua mereka lakukan di sela sela lulus telat mereka.
Namun tidak dapat aku pungkiri bahwa lulus cepat adalah juga jalan yang baik. Tidak jarang juga kutemui orang orang yang lulus cepat dan sukses, banyak bahkan. Setidaknya dengan lulus cepat, maka kita lebih cepat mengurangi beban orang tua kita.
Yang Sedang Banyak Dibaca
-
Berikut adalah daftar blog atau website pribadi para teman teman, guru guru, dosen dosen, ustad ustad saya. Berisi cerita cerita inspirati...
-
Aku ingat, salah satu masa paling berat dalam hidupku adalah di hari hari awal hijrah pertamaku. Ya hijrah pertama, hijrah dari Kediri ke Yo...
-
Ngeri membayangkan penderitaan saudara saudara kita di palestina. Perjuangan mereka mempertahankan tanah para Nabi ini nampaknya sangat ber...
-
Ternyata, banyak hal yang menurut kita itu besar tapi sesungguhnya kecil menurut orang lain. Ternyata ada banyak hal yang menurut kita kecil...
-
Otomatisasi Penggunaan Daya Listrik di Jurusan Teknik Elektro Berbasis Delphi “PROGRAM MANAJEMEN ENERGI JTE FT UGM” Untuk Men-Download ...
