/* */

Sebuah Ilustrasi diriku yang dibuat Oleh Bima Rahmad Zuhrizal. Walau resistornya ga bangat, but I like this. Arigaro Brother

Current Panel: Total Panels:

Back 1 Panel Forward 1 Panel
To 1st Panel Forward 2 Panels

Bahwa sesungguhnja kemerdekaan itu jalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perdjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai (lah) kepada saat jang berbahagia dengan selamat-sentausa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indnesia, jang berkedaulatan rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja, menurut dasar kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.

Djakarta, 22 Juni 1945

Ir. Soekarno
Mohammad Hatta
A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Achmad Subardjo
Wachid Hasjim
Muhammad Yamin


Oleh Herry Nurdi Penulis, Wartawan Islam


Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.

Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.

Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.

Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.

Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).

Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.

Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat Bismillahirrahmanirrahim dan ditutup dengan Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!
Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.

Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?

Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.

Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.

Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.

Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam. Wallahu a’lam .( dikutip dari republika 28/08/2009)

Helm hilang, saya rasa itu biasa, tapi rem motor hilang saya rasa itu hal yang langka.

Tapi hal ini beberapa bulan yang lalu terjadi pada motor saya. Pada suatu malam, seperti biasa ketika saya ingin internetan dengan puas saya menginap di ruang workshop KMTE (Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro). Karena belom pernah saya rasakan koneksi internet yang lebih cepat dari KMTE ketika malam hari.

Karena menginap di KMTE adalah hal yang biasa dan selalu banyak temannya, maka saya santai saja ketika melakukannya. Saya memarkir motor seperti biasa dan tentu tidak memikirkan apa apa. Di Workshop saya juga ngenet dengan santainya, mendownload beberapa file yang saya butuhkan tanpa berfikir yang aneh aneh.

Subuh di keesokan harinya ketika saya terbangun dan masih terasa kantuk yang berat karena habis begadang untuk ngenet, saya pulang tanpa memperhatikan kondisi rem motor saya. Namun ketika di kost saya baru sadar. Bahwa rem motor ku hilang.

Terus hikmahnya apa, berat juga bila ditanya hikmah dari cerita ini. Bila Helm hilang ya hikmahnya lain kali helm dititipkan atau dibawa masuk ke ruangan. Bila motor hilang lain kali motor di kunci ganda. Bila rem hilang, any suggest? =)
Ini adalah taun pertama aku mengikuti pemilu. Tidak seperti sebagian besar pemuda yang kurnag peduli dengan dunia Politik, aku adalah tipe orang yang sangat peduli padanya. Sejak jaman pemilu pasca reformasi 1999 disaat umurku masih baru menginjak belasan aku sudah memikirkan parpol dan perjuangannya di Indonesia.

Walau bapakku hanyalah guru yang jauh dari kehidupan politik, namun dia adalah orang yang sangat peduli dengan sosial kemasyarakatan, termasuk politik. Tidak jarang aku mendiskusikan berbagai parmasalahan sosial kemasyarakatan dengannya. Tidak jarang pula aku berbeda pendapat dengannya. Tapi hal itu kami sikapi dengan nyaman, perbedaan itu tidak membuat kami emosi atau bermasalah tapi justru membuat kami semakin paham dan percaya satu sama lain.

Mulai masalah poligami sampai politik, sejarah sampai fatwa MUI bisa kita diskusikan sampai kita lupa waktu. Aku jadi ingat ketika aku dan bapakku mendiskusikan pernikahan Syekh Puji dan Ulfa, saat itu aku menganggap Media salah besar ketika memojokkan pak Puji, karena itu melanggar privasi dan HAM. Apalagi tidak ada pihak yang dirugikan disana, semua sama sama suka. Namun bapakku yang mengnggap apa yang dilakukan pak Puji melanggar kewajiban dalam berbangsa dan bernegara, karena manikah adalah salah satu hal yang sudah diatur oleh pemerintah dan kita harus mengikutinya. =)

Begitu juga ketika pemilu ini. Kami sempat diskusi panjang membahas parpol lewat telepon. Kebetulan dalam pemilu kemaren kami mendukung partai yang berbeda. Bapak mendukung PAN ==>Sebuah partai kumpulan orang orang sholeh (karena dimotori oleh orang orang Muhammadiyah) namun merupakan partai Nasional ==> karena ingin diterima banyak kalangan (begitu katanya. Sedangakn aku mendukung PKS, wajar karena kehidupan kampus membuat aku sering bersentuhan dengan aktifis aktifis kampus. PKS sebagai organisasi yang dimotori oleh Aktifis Dakwah Kampus berusaha menjadi partai yang bersih, peduli dan profesional. Sedangkan Ibukku mendukung PBB, karena beliau dilahirkan di keluarga Masyumi, sebuah partai Islam yang menurutku partai yang benar benar Islam. Bahkan (dahulu) Masyumi berani memperjuangkan Islam sebagai dasar dari bangsa ini (bukan pancasila), akhirnya sampai di black list dari pemerintahan. Bila kita tengok jaman sekarang tidak ada lagi partai Islam (termasuk PKS yang aku dukung) memperjuangkan Islam sampai demikian.

Tapi kerennya, tanpa rekayasa pada pilpres kemaren kami sekeluarga mendukung pasangan Capres yang sama. Walau kalah, at least kami sudah berusaha berikan yang terbaik untuk bangsa dan agama ini. Melalui usaha kami, melalui suara kami.

Lebih Cepat Lebih Baik

Beberapa waktu yang lalu sempat aku nge-Post status di facebook yang isinya kurang lebih "aku ingin nangis" tak kusangka banyak bgt teman dan saudara yang memberikan komentar atas statusku itu. Ada yang bilang kalo nagis tu ga menyelesaikan masalah, ada pula yang bilang nangis itu sehat.

Cowok kok nangis..... berbagai media sering menyudutkan cowok yang nangis. Ga gentle ato ga keren -- tapi aku kok nyaman ya nangis. Nangis menjadi sesuatu yang aku nanti, karena sebenarnya ga gampang juga membuatku nangis.Kebanyakan hal yang membuat aku nangis adalah ketika aku nonton, dengar atau baca cerita yang inspiring. Penuh hikmah dan perjuangan, justru bukan cerita yang menyedihkan. Salah satu cerita yang dapat membuatku menangis adalah One liter of tear, sebuah drama jepang yang menurutku very inspiring. Tapi yang membuatku menangis bukan kesedihan dan penderitaan yang dialami Ikeuchi Aya (tokoh utama). Namun ketegaranya, hikmahnya serta rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadaku yang sering aku lalaikan (KESEHATAN).

Begitu juga ketika aku nonton dan baca Laskar Pelangi terus aku menangis. Hal yang lebih membuatku menangis bukan kematian ayah lintang atau pak Harfan, tapi lebih ke perjuangan mereka. Memang sih kematian mereka menjadi "katalis" dalam proses munculnya air mata di mataku, namun yang lebih utama adalah keIstiqomahan guru SD Muhammadiyah dan perjuangan Lintang dkk.

Terkadang menangis aku jadikan tolak ukur kualitas film atau cerita yang aku tonton, berapa kali film itu membuatku menangis, semakin banyak berarti film itu semakin keren. Hal ini juga terkadang aku gunakan untuk mempromosikan sebuah film ke temanku, misalnya ketika aku mempromosikan Dragon Sakura ke teman teman, aku sebutkan berapa kali aku nangis ketika menontonya -- karena jumlah nangis equal dengan relative kualitas film itu.

Menangis membuatku merasa menjadi lebih manusiawi. Di kampus aku dididik untuk bisa menyelesakian permasalahan Engineering atau mendesain hardware atau sistem se baik mungkin, menghitung persamaan atau bahkan memberikan solusi dari permasalahan Engineering di Masyarakat. Trus apa bedanya aku dengan robot, robot juga diciptakan untuk dapat menyelesaian hal hal itu (namun tentu dengan ketidaksempurnaannya). Sehingga ketika aku menangis aku merasa menjadi lebih manusia, tidak hanya manusia yang menyelesaikan permasalahan Engineering namun juga manusia yang memiliki hati. Ini juga alasan mengapa aku senang bercanda dengan teman teman atau ngurus organisasi. Karena kegiatan itu meningkatkan jiwa sosialku, yang semakin "memanusiakan" aku.

Makanya tidak jarang aku nge-"hunt" berbagai J-Dorama yang tidak jarang membuatku menangis ketika menontonya. Untungnya ada komputer di Jurusan yang adminnya rajin update J-Dorama di-share pula jadi kebutuhan itu semakin terpenuhi. Jika pingin tinggal browse terus copy. Tapi  tidak sedikit pula J Dorama yang kisahnya hanya cerita2 cinta tanpa hikmah yang inspiring. Temen temen juga tidak sedikit yang gemar nonton J-Dorama jadi mereka juga merupakan referensi bagiku. hehehe

Menangis yang paling keren adalah ketika kita menangis karena takut akan dosa dan azab Allah. Aku ingat dahulu aku pernah menangis karena takut akan dosa, tapi kenapa sekarang tidak lagi. Ketika ingat akan dosa, membuatku tidak menangi juga di sholat malamku. Aku iri degan orang orang yang bisa menangis karena takut akan azab Allah. Apakah ini berarti Imanku begitu tipisnya sehingga kisah One Liter Of Tear lebih membuatku menangis dari pada dosa yang telah aku perbuat

Astaghfirullah....
Ini adalah kata cinta pertama yang aku gunakan dalam judul tuliasanku di ahmadhelmy.blogspot.com. SO Apakah aku sedang jatuh cinta????

Maaf kawan bukan kisah cintaku yang akan aku bahas disini. Namun aku akan sedikit menceritakan kisah temanku yang keren dalam menghadapi cintanya (perasaan dan objek cinta are included).

Pernahkah kamu merasa iri ketika kamu tau seorang teman yang memiliki pacar atau menikah dengan cewek yang sangat worthed. Kamu berfikir bahwa, mengapa bukan aku yang disampingnya, atau membayangkan seandainya kamu yang mendapingi si cewek itu. Jujur saya sebagai lelaki tidak pernah atau agar amannya aku katakan hampir tidak pernah aku merasakaanya. Sehebat apapun cewek yang berada di samping seorang cowok aku tidak pernah berfikir, seandainya aku yang ada disampingnya.

Tapi hal itu bukan tidak mungkin, ada juga seorang cowok yang merasa iri ketika ada seorang cewek yang sangat worthed bersama cowok lain. Seperti orang orang di sekitar temanku yang akan aku ceritakan ini ketika dia menjadi pacar seorang cewek yang sangat worthed. Anggap nama si cowok Fulan dan si cewek Fulun.

Si Fulan adalah seorang cowok yang ganteng, dan seperti cowok ganteng pada umumnya dia gonta ganti pacar. Suatu ketika dia bertemu si Fulun. Si Fulun ini cewek yang sangat cantik, ketika si Fulan bercerita kepada penulis, dia bilang bahwa hampir tidak bisa kutemukan cewek di UGM yang bisa menandingi kecantikannya (wooot! I can't imagine how beautiful she is).

Singkat cerita si Fulan berpacaran dengan si Fulun, Mereka saling mencintai dan nyaman satu sama lain.Suatu ketika si Fulan berjanji kepada si Fulun kalo dia akan menikahinya. Dan si Fulun menerimanya.

Singkat cerita lagi si Fulan kuliah di UGM dan si Fulun masih di kampung halaman. Walaupun jauh dan lama tidak bertemu, sudah tidak berpacaran lagi dan mungkin sudah berganti dengan pacar lain si Fulan tetap merasa memiliki janji dengan si Fulun. Dan ternyata setelah dia menghubungi si Fulun, si Fulun juga masih menunggu si Fulan.

Singkat cerita ketika di UGM si Fulan mendapat hidayah, dia menjadi sosok yang sholih. Dia selalu bersama orang orang yang paham agama, interest buat belajar agama, dan selalu senantiasa mendakwahkan agama. Ikut di beberapa organisasi dakwah kampus, dan senantiasa berusaha menjaga hati dan pandangan. Namun dia juga masih ingat kalo dia punya janji dengan si Fulun.

Karena si Fulun juga masih berharap pada si Fulan, dia sering menghubungi si Fulan. Namun si Fulan tidak ingin si Fulun sering menghubunginya. Karena dia merasa apa yang dilakukanya ini tidak halal karena hubungan keduanya belum sah. Dia takut dirinya tidak bisa menjaga hati dan terjerumus dalam lumpur lumpur cinta (apa pula ini=). Dia meminta agar si Fulun tidak menghubunginya kecuali dalam urusan yang penting. (sampai disini coba rasakan apa yang dirasakan kedua pihak dan bayangkan bila kamu jadi salah satunya. Si Fulun sedemikian worthed-nya namun temanku ini bisa menolak teleponnnya (wooot can you imagine this!).

Ternyata demi tetap mendapatkan cinta si Fulan si Fulun rela tidak menghubungi si Fulan. Dia mengunggu dan menunggu.

Seoga keduanya mendapatkan yang terbaik dan Semoga bermanfaat bagi pembaca semua.
As a blogger, A comments will give me encourage to write.  I feel, what I do, what I write have useful for someone, at least it become something that they read.  That’s why I feel very happy when someone give a comment or probably more on my posts. Almost every time I see a new comment on one of my post, I have new power to write a new post.
To get more comments, I have done many things. One of the first is making my blogger post page attach in the bottom of the post (like wordpress). I’m sure it makes the reader easier to post a comment. I hope it work.  After make the post page attached in the bottom of the post, I add a widget that show, who are the best commenter. It is based on the quantity of the comments they post. So if you want your name appear in the Best Commenter widget, please post many comments on my blog. It will not only make me happy and giving me a new spirit to write more post, but also it will make your page more popular. It is because the link to your page will be shown in this blog. 
Of course, if you give comment s in different accounts or anonymous, your commentswill not shown in this list. So if you want to become the best commenter you need to use the same accounts and name.
I’m waiting to your comments!
Akankah kita menjadi orang yang tidak peduli, akankah kita menjadi orang yang tidak memilih. Memilih atau tidak memilih, kita sama sama tau bahwa hal yang kita perbuat dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah SWT. Mungkin setiap orang punya hak atas sikapnya, namun setiap orang juga punya kewajiban untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Mungkin pemilu dan sistem yang ada di dalamnya bukanlah produk Islam, namun bila tidak ada yang terbaik bukankah kita usahakan untuk memilih yang paling baik di antara pilihan yang ada.

Bangsa ini perlu pemimpin yang baik, dan bersih. Jika kita tidak mencari dan memilih caleg/partai/capres yang baik dan bersih, bagaimana dengan nasib bangsa ini. Karena kita tidka mencari dan memilih yang baik dan bersih, bisa jadi orang yang tidak berkualitas yang menjadi pemimpin bangsa ini. Karena kita tidka mencari dan memilih yang baik dan bersih, orang kafir bisa mendominasi dalam pemilu dan memenangkan caleg/partai/capres yang jauh dari syariat islam.
Orang orang tak bertanggungjawab, koruptor, kafir dan atau munafik bisa jadi akan menguasai pemerintahan bangsa ini, dan itu berarti bangsa ini akan semakin jauh dari kesejahteraan, keadilan, kemandirian,dan syariat Islam.

Walaupun sistem yang ada belum seperti pemilihan kholifah Rosyidin.Dan belum ada caleg/partai/capres yang meneriakkan syariat Islam, setidaknya kita mencari caleg/partai/capres yang paling dekat dengan itu. Agar bangsa ini dipimpin oleh orang yang terbaik.

Bila tidak ada calon yang baik, pilihlah yang terbaik dari padanya.
Bila tidak menemukan yang terbaik, berusahalah mencari yang terbaik padanya.
Lebih baik kita berusaha memilih yang terbaik dari pada membiarkan yang terburuk memilih kita.
Semua yang kita perbuat akan dipertanggungjawabkan! Termasuk membiarkan kemungkaran memimpin kita.

Bangsa Indonesia is our responsibility
Jalan yang dipenuhi foto foto orang yang ga jelas,tempat tempat umum yang diwarnai dengan gambar partai yang semakin beragam, iklan iklan tivi yang dipenuhi dengan janji janji politik, dan situs situs internet yang ikut ikutan menjadi tempat kampanye politik.

Tidak hanya saya, nampaknya tidak sedikit orang orang yang merasa terganggu dengan hal ini. Mencoba untuk tidak peduli, tetapi tetap saja kita akan melihat. Mencoba untuk lebih peduli, semakin bingung akan banyaknya pilihan. Partai lama yang semakin giat menebarkan janji janji danprestasi, serta partai partai baru yang menjanjikan perubahan baru.

Pemilu 2009 bisa dibilang adalah pemilu paling ramai dalam sejarah Republik Ini. Semkin banyak jumlah dan jenis kampanye yang dikerahkan caLeg. Namun nampaknya semakin banyak pula yang merasa risih dan ga peduli terhadap agenda 5 tahunan Bangsa ini.

Jika kita risih melihat mereka narsis di berbagai tempat dan media, seharusnya kita ingat bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka.Sistem telah mendukung mereka untuk itu. Sistem politik di Indonesia memang terdisain untuk menganggarkan milyaran rupiah untuk kampanye dan memenuhi ruang ruang publik.

Jika kita tidak nyaman akan hal itu, kita harus peduli. Pilih caleg/partai/capres yang sekiranya dapat berusaha memperbaiki sistem itu menjadi lebih baik. Bila kita tidak  tau, seharusnya kita berusaha mencari tau, Golput Bukan Pilihan!

Peduli atau tidak peduli, setiap dari kita telah terdaftar sebagai pemilih di pemilu 2009 ini. Suka atau tidak suka, pemilu 2009 dan segala prosesnya akan terlaksana di 2009 ini.Milih atau tidak memilih, akan tetap ada caleg, partai dan presiden yang terpilih di pemilu 2009 ini.

Maka Peduli-lah
(Bila dahulu)

hemmm, sejak beberapa hari yang lalu umurku sudah berkepala dua. Aku sudah tua.... itu yang mulai sering kupikirkan sejak saat itu, terlebih setelah seseorang teman yang mengucapkan "Helmy sudah tua yah" di wall facebook-ku.

Bila dahulu tidak sedikit orang orang yang memanggilku dik Helmy atau bahkan nak Helmy. Tapi sekarang tidak hanya mas Helmy, bahkan tidak sedikit beberapa orang disekitarku memanggilku Om Helmy atau pak Helmy. sering dibeberapa kesempatan di berbagai tempat umum orang orang, menggunakan sapaan Pak untuk mewakili kata ganti diriku. Huh... aku sih tidak marah cuman hal itu membuatku merenung..... Aku sudah tua.

Bila dahulu aku sering berfikir untuk meminta uang ke orang orang sekitarkku (atau setidaknya berharap untuk diberi), tapi saat ini aku sudah mulai berfikir bagaimana aku bisa mencari uang setidaknya untuk diri sendiri. Sudah mulai malu rasanya tiap hari harus meminta dan meminta.

Bila dahulu aku sering mendengar kabar atau cerita seorang teman yang mendapat pacar baru, atau mulai proses pendekatan terhadap seorang cewek. Tapi saat ini beberapa kali aku mendengar kisah seorang teman yang sudah mengkhitbah seorang Akhwat atau bahkan sudah lamaran atau nikah. Maka tentu wajar bila sekarang aku juga mulai sering memikirkan hal seperti itu =).

Bila dahulu ketika melihat seorang cewek yang menarik, beberapa kali aku berfikir "coba aku punya pacar kayak dia". Nampak nya hal itu sudah tidak terjadi lagi saat ini. Beberapa kali ketika dai suatu peristiwa ku bertemu cewek cewek seusiaku aku sudah mulai berfikir "Cocok ga ya dia jadi Istriku"

Bila dahulu aku sering membayang kan apa yang akan aku lakukan di masa yang akan mendatang. Misalnya ketika di SMA dan aku membayangkan di masa masa kuliah tapi saat ini aku mulai sering menggunakan kata "Bila dahulu" menunjukkan aku sudah tua!