Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi Bagian 1

Dalam rangka memenuhi kewajiban  sebagai abdi negara membuatku harus mendamparkan diri di salah satu pulau dengan bentuk paling unik di Dunia, sebuah pulau yang sangat besar, dan menyerupai huruf K. Ya pulau sangat indah ini bernama Sulawesi.

Aku tinggal di kota tempat lahir satu satu nya presiden Indonesia dari luar suku Jawa, sekaligus salah satu tokoh Indonesia paling keren yang pernah kukenal, BJ Habibie. Ya, kota itu bernama Parepare, sebuah kota kecil di pantai barat Sulawesi, kota yang cukup sederhana. Mereka bilang ini adalah kota terbesar kedua di propinsi paling maju di Indonesia Timur (yaitu Sulawesi Selatan), namun sangat sederhana. Disini tidak akan kita temukan Bioskop apalagi 21, disini tidak dapat kita temukan Mal, apalagi Carefour, disini juga tidak ada PTN apalagi UGM :D.

Meskipun demikian mereka menyebut Parepare sebagai kota terbesar kedua di Sulawesi Selatan, namun nampaknya memang demikian, dibandingkan kabupaten kabupaten lain di Sulawesi Selatan kondisi Parepare dapat dibilang "lebih mendingan". "Ternyata kondisi pembangunan di luar jawa sangat memprihatinkan, bila seperti ini Sulawesi Selatan, bagaimana dengan Maluku dan Papua?", demikian gumamku dalam hati.


Namun, di postingan ini aku tidak hendak bercerita tentang geografis, kondisi pembangunan, apalagi analisis politik di Sulawesi Selatan. Namun aku ingin bercerita tentang suku Bugis, sebuah suku yang cukup banyak terutama di sekitar Pare Pare. Sekedar informasi, di Sulawesi Selatan kurang lebih ada 4 suku utama, yaitu suku Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Karena saya banyak tinggal di Pare pare, maka saya lebih banyak berinteraksi dengan suku Bugis.

Bapakku sempet pesan lewat SMS di hari hari awal kami di Sulawesi, pesan untuk berhati hati dengan orang bugis, karena menurut beliau orang bugis keras, mudah tersinggung, mudah emosi, ya kurang lebih seperti Madura.

Namun ketika saya berada di sini, tidak ada sedikitpun perasaan bahwa mereka keras yang saya rasakan. Saya justru merasa bahwa mereka sangat ramah dan baik, mereka banyak sekali yang membantu kami dalam banyak hal. Mulai dari mencari kost, bersosialisasi, mengenal kota Parepare, menunjukkan berbagai fasilitas umum yang dapat digunakan, dan lain sebagainya. Sambutan yang hangat, senyum yang tulus serta perlakuan yang sangat baik cukup membuatku tidak "homesick". Bahkan menurutku sikap mereka lebih baik dan lebih ramah dari rata rata orang Kediri dimana saya dilahirkan, dan orang Yogja yang begitu saya cintai.

Bersambung ke Kami Sangat Menghargai Pendatang

No comments:

Post a Comment

Silahkan memberikan komentar, tolong gunakan kata kata yang sopan.
Bhs Indonesia, Boso Jowo, English.... tidak masalah

Powered by Blogger.

Mutiara Hikmah

Yang Sedang Banyak Dibaca

Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Sahabat Bloggerku

Komentar Komentar Terbaru

International opportunities

Eramuslim

Web hosting for webmasters