Masa Pencarian Jati Diri

Dalam sejarah hidup Helmy, ada 4 tahun yang bisa dibilang spesial. 4 tahun kuliah? oh ternyata bukan itu. Bila Crisye pernah menyanyikan bait lagu, masa masa paling indah, masa masa disekolah. tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah. Hem.... kurang lebih 4 tahun yang spesial itu berkaitan dengan lagu Crisye itu. Ya! disekolah, namun masa yang spesial tapi bukan sekedar kisah kasih, tapi masa masa disekolah bagi Helmy adalah masa masa pencarian jati diri. Ya! 4 tahun masa pencarian jati diri disekolah.

4 tahun masa pencarian jati diri itu adalah, 3 tahun di SMP dan 1 tahun di SMA. Ketika masa 4 tahun itu, bisa dibilang Helmy adalah seorang yang labil. Ya.... labil, labil dalam perasaan, labil dalam pilihan hidup, labil dalam semangat hidup, bahkan labil dalam keimanan. Helmy yang suka ikui ikutan, Helmy yang lemah dan tidak berpendirian, Helmy yang tidak punya cita cita, Bahkan Helmy yang menganggap remeh sholat Fardhu! P.A.R.A.H Ya, akhalaq bahkan aqidah Helmy saat itu memang P.A.R.A.H.

Namun di saat seperti itu ada 7 orang teman yang berkontribusi dan membantu Helmy dalam mencari jati diri. Mereka lah yang secara tidak langsung mencetak karakter Helmy yang sekarang. Mungkin mereka tidak sadar, mungkin mereka hanya melakukan rutinitas mereka, mungkin mereka tidak punya niat untuk menjadi orang yang spesial bagi Helmy. Dan notes ini adalah bagian dari ucapan terima kasihku untuk kalian ber 7.

Berikut adalah daftar teman teman tersebut (untuk menjaga privasi, saya hanya akan menggunakan inisial saja)

si Z : Dia adalah orang yang sangat ceras, dan kami memiliki hobi yang sama, Maen GAME!!. Dalam sejarah hidupku, dia adalah orang yang paling sering kutelpon dan menelponku. Dalam sekali telpon hitungan menit tidak cukup untuk merepresentasikan percakapan kami, bukan menit, tapi Jam! gila memang! Walaupun nampak santai, dan nampak biasa biasa saja, namun dia berprestasi di kelas. tiap catur wulan (dulu belum menggunakan sistem semester) dia selalu masuk 5 besar kelas. Kemampuan Fisika, Matematika, dan Bahasa Ingrisnya outstanding!. Sifat si Z yang nampak santai dan suka maen game namun memiliki kemampuan akademik yang diatas rata rata ini yang berkontribusi dalam membentuk karakter jati diri seorang Helmy yang pertama.

Si F : Bila anda adalah seorang cewek normal, seharusnya ada akan bilang, buset dah ganteng bener nih cowok! Setidaknya itu lah karakter yang kuat melekat dalam dirinya. Saya masih ingat betul, bila kami jalan bareng, misal dari kelas ke kantin, atau dari masjid ke lapangan bola pasti selalu saja banyak cewek yang memanggil namanya, hanya namanya!!! tanpa memanggil namaku!!!! Sabar sabar! Dia sangat populer, entah berapa kali dia menolak berbagai cewek yang mengajaknya pacaran. Namun meski dia memiliki kesempatan yang luar biasa untuk mempermainkan cewek, atau bahkan mungkin berzina. Ternyata dia tidak melakukanya, dia termasuk golongan temanku yang paling alim pada saat itu. Sholat Dhuha jarang ditinggalkanya, dan pemahaman agamanya lumayan bagus. Kemampuan akademis juga lumayan bisa dibanggakan. Dia juga teman yang sangat perhatian dan memahamiku dengan baik.

si P1 : Bila anda menganggap anak sekolah yang naik motor gede, atau yang pinter main gitar, atau piter main basket itu keren, dia punya cara untuk menjadi keren yang lebih dari itu. Dia jualan nasi pecel di Kelas!!! Sebuah tindakan yang menurutku sangat keren, sebuah tindakan yang sampai sekarangpun tidak berani kulakukan. Dia tidak ragu menawarkan daganganya ke teman temanya, kemudian mengantarkan nasi pecel ke meja teman temanya, kemudian dia tidak lupa meminta bayaran atas nasi pecel yang dia jual. dia hampir melakukanya tiap pagi. Bagiku apa yang dia lakukan itu sangat keren! Sangat Keren!

si P2 : Dia adalah orang keren pertama yang kutemui di SMA. Dia adalah orang yang memiliki pendirian sangat kuat, tidak mudah terpengaruh oleh ajakan apalagi hasutan orang lain. Dia sangat percaya diri dengan pilihanya, dan benar benar menjalankan pilihanya. Dahulu di SMA, sebagian besar dari kita akan memimpikan masuk kelas IPA, bahkan termasuk kita yang tidak telalu pandai berhitung dan logika. Sebagian besar orang mengganggap kelas IPA itu lebih baik dan lebih prospek dari IPS. Tapi tidak dengan temanku yang satu ini, walaupun dia pernah memiliki nilai ujian Kimia terbesar di kelas tapi dia dengan bangga tetap menyatakan "Aku mau masuk IPS!!" Dia tidak terpengaruh oleh teman teman yang lain, pilihanya sudah final, dia sudah menentukan keputusan. Dan keputusan ini adalah bagian dari idealismenya, idealismenya sebagai manusia.

Si J : Si J adalah satu satunya cewek dalam daftar ini. hemmmm, ya dia spesial. Jujur tidak seperti orang orang sebelumnya yang sangat ku kenal dengan baik. Si J ini berbeda, aku tidak terlalu mengenalnya, cuman pernah bercakap cakap beberapa kali, itupun tidak terlalu lama. bahkan bisa jadi saat ini dia sudah lupa aku atau siapa namaku. Tapi justru itu yang membuatku memasukkanya dalam daftar ini. Si J adalah cewek yang cantik, emmmm bisa dibilang sangat cantik, tidak hanya itu dia juga cewek yang cerdas, emmmm bisa dibilang sangat cerdas. waw.... dia pernah mendapat rangking 1 se sekolah (bukan hanya se kelas!!!!). Selama SMA, Walaupun dia tidak terlalu mengenalku namun dia tetap selalu menyapaku dengan senyum manisnya ketika bertemu aku di jalan. husss!!! jangan berfikir macam macam! satu hal yang aku ambil dari dia, "jangan pernah remehkan orang lain, meski dia layak diremehkan"

si R : Aku mengenal mas R karena dia juga anggota Rohis SMA ku. Apakah dia petinggi Rohis sehingga nampak keren dengan kepemimpinannya? Oh ternyata bukan. Pemahaman agama yang tidak terlalu istimewa, nilai pelajaran sekolah yang biasa biasa saja, dari segi ekonomi juga biasa biasa saja. Nampak tidak ada yang spesial dari mas R ini, tapi bagiku mas R ini luar biasa. Mungkin dia tidak merasakanya, tapi cara bicaranya, tingkah lakunya, sikapnya membuat aku merasa benar benar menjadi adiknya. Adiknya yang perlu untuk dibimbing dan diarahkan, adiknya yang perlu diajari banyak hal, adiknya yang perlu dididik dengan penuh kesabaran. Mungkin sebenarnya dia memperlakukanku biasa saja, sama seperti mas R memperlakukan teman se angkatanku yang lain di Rohis. Tapi bagiku yang haus akan perhatian, bagiku yang ingin diperhatikan, apa yang mas R lakukan bukanlah hal yang biasa, dan yang penting apa yang dia lakukan berdampak besar bagi Helmy saat ini.

Si S : Jenius dan Sangat Alim. Dua kata yang tepat untuk merepresentasikan mas S ini. Dia adalah orang yang membuatku nyaman dan semangat dalam menghadiri forum yang bernama Liqo. ya, bisa dibilang dia adalah Murabbi pertamaku. Selisih umurnya tidak jauh, kurang dari 1 tahun dariku, tapi bagiku dia sungguh Istimewa. Pernah memiliki nilai tertinggi di Sekolah, Juara karya tulis Ilmiah, tapi tidak hanya itu, dia juga sangat paham Al Quran!!! Dia juga sangat mencintai Al Quran, bila tidak ada kerjaan dengan santai dia membuka dan membaca baca Quran nya, di kelas, di teras sekolah, apalagi di Masjid. Bila aku bertanya masalah agama kepadanya, dia akan dengan yakin menyatakan, coba buka Quran surat sekian dan ayat sekian, dari ayat itu bisa kita pahami bahwa bla bla bla bla. Kemudian di kesempatan lain aku cuba bertanya lagi, dan jawabanya selalu, coba buka Surat ini ayat sekian dan kemudian mas S menjelaskan jawaban pertanyaanku dari ayat yang barusan saya buka, begitu seterusnya. Subhanallah!! Seseorang dengan kemampuan akademis luar biasa dan pemahaman Quran yang luar biasa pula, benar benar sosok yang sangat patut untuk dijadikan tauladan.

Asrama Mahasiswa Muslim: Creating Special Forces

Sebagian besar orang akan merasa berat ketika tau bahwa kami di asrama (seharusnya) diwajibkan utuk selalu menaati beberapa peraturan yang sebenarnya juga tidak sedikit. Saya katakan seharusnya karena ternyata pada pelaksanaanya tidak seideal itu. Kegiatan asrama tiap bada subuh, kajian tiap bada Isya dari Senin sampai Kamis, kegiatan olahraga di tiap Ahad pagi, ditambah lagi hafalan surat yang harus disetor ke ustad beberapa periode sekali, tugas artikel yang harus ditulis dan dikumpulkan tiap bulan, belum lagi tugas yang berkaitan dengan materi kajian di Asrama yang diberikan oleh asatid. Dan ternyata tidak hanya itu. Oh tidak hanya itu, ustad sering bilang, Asrma kami ini bercita cita menciptakan "Special Forces", special forces dalam dakwah dan tentunya dalam perjuangan bangsa ini. Bagaimana tidak, selain harus mengikuti berbagai kegiatan asrama yang sangat padat, kami juga harus berprestasi di Kampus yang dibuktikan dengan IP yang selalu baik (3,00), juga di saat yang bersamaan kami diharuskan aktif di organisasi sebagai wujud aktualisasi diri dan kontribusi kepada masyarakat sekitar, di saat yang sama pula kami didorong untuk mengikuti berbagai kompetisi dan lomba agar kami bisa menjadi santri berprestasi. Namun, di saat yang sama pula kami pasti punya tanggungjawab kepada orang tua kami masing masing yang harus dipenuhi, Kami juga punya amanah di lembaga tempat kami berkontribusi,dan tentunya kami juga memiliki cita cita dan ambisi pribadi yang harus kami capai.

Namun, Yang namanya sistem buatan manusia pasti ada kurangnya, ada celahnya. Begitu juga dengan asrama kami, walaupun para pembina, asatid dan pengurus asrama selalu Memperjuangkan kedisiplinan kami, kedisiplinan yang tentunya agar program, target dan tujuan asrama dapat berjalan dengan baik, dan tentunga agar kami dapat menjadi special forces, tetapi kenyataanya tidak se mulus itu. Banyak diantara kami yang ternyata bisa saja mengambil celah atau menggunakan berbagai alasan (atau kadang tidak beralasan) untuk meninggalkan kedisiplinan itu. Meskipun di awal kita sudah membuat kesepakatan, ya meskipun kita sudah berjanji akan menyepakatinya, ya meskipun setiap apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban, ya meskipun janji adalah hutang. Ya ternyata dunia tidak se-Ideal itu, bahkan di komunitas yang mengaku memiliki idealisme tinggi seperti di asrama kami.

Meskipun demikian, satu hal yang pasti, sebagian besar dari kami adalah orang yang sibuk dan berprestasi baik di kamus ataupun ormas dan LSM atau mungkin lembaga yang lain. Ada diantara kami yang selalu cumlaude, ada diantara kami yang memiliki jabatan tertinggi di lembaga tempat kamiberkontribusi, ada diantara kami yang menjadi inisiator berbagai gagasan baru pergerakan mahasiswa, ada diantara kami yang memenangkan berbagai event dan perlombaan skala nasional, ada diantara kami yang mewakili UGM dalam beberapa undangan Internasional, ada diantara kami yang mampu membagi waktu sehingga mampu menjadi mahasiswa di 2 PTN terbaik di Kota Pelajar, ada diantara kami telah menulis buku (novel, kumpulan cerpen, dll) yang akan atau telah diterbitkan oleh salah satu penerbit, ada diantara kami yang sering menjadi pemateri atau motivator di berbagai event bahkan di luar Jogja, ada diantara kami yang sudah memiliki penghasilan sendiri karena bisnis yang kami rintis, ada diantara kami yang sudah disibukkan dengan beberapa proyek dari dosen atau berbagai institusi, ya itulah kami calon special forces.

Walau kami jarang ikut kajian, walau kami sering mengucap kata afwan bila ada agenda asrama, walau kami susah mengangkat kepala di kajian bada subuh, walau kami sering tidak mendengar suara adzan dari masjid yang hanya beberapa jengkal dari kamar kami di waktu subuh, walau kami sangat tidak peduli dengan kebersihan asrama, walau kami begitu jelek dalam hal kedisiplinan, tapi kami yakin kami mampu menjadi special forces!

Laporan Akhir Aplikasi Komputer Dalam Sistem Tenaga Listrik

Otomatisasi Penggunaan Daya Listrik di Jurusan Teknik Elektro
Berbasis Delphi

“PROGRAM MANAJEMEN ENERGI JTE FT UGM”

Untuk Men-Download Laporan Klik Disini

Naskah Piagam Jakarta

Bahwa sesungguhnja kemerdekaan itu jalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perdjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai (lah) kepada saat jang berbahagia dengan selamat-sentausa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indnesia, jang berkedaulatan rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja, menurut dasar kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.

Djakarta, 22 Juni 1945

Ir. Soekarno
Mohammad Hatta
A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Achmad Subardjo
Wachid Hasjim
Muhammad Yamin

Utang Indonesia Pada Ummat Islam

Oleh Herry Nurdi Penulis, Wartawan Islam

Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.

Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.

Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.

Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.

Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).

Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.

Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat Bismillahirrahmanirrahim dan ditutup dengan Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!
Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.

Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?

Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.

Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.

Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.

Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam. Wallahu a’lam .( dikutip dari republika 28/08/2009)

Rem Motor Hilang

Helm hilang, saya rasa itu biasa, tapi rem motor hilang saya rasa itu hal yang langka.

Tapi hal ini beberapa bulan yang lalu terjadi pada motor saya. Pada suatu malam, seperti biasa ketika saya ingin internetan dengan puas saya menginap di ruang workshop KMTE (Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro). Karena belom pernah saya rasakan koneksi internet yang lebih cepat dari KMTE ketika malam hari.

Karena menginap di KMTE adalah hal yang biasa dan selalu banyak temannya, maka saya santai saja ketika melakukannya. Saya memarkir motor seperti biasa dan tentu tidak memikirkan apa apa. Di Workshop saya juga ngenet dengan santainya, mendownload beberapa file yang saya butuhkan tanpa berfikir yang aneh aneh.

Subuh di keesokan harinya ketika saya terbangun dan masih terasa kantuk yang berat karena habis begadang untuk ngenet, saya pulang tanpa memperhatikan kondisi rem motor saya. Namun ketika di kost saya baru sadar. Bahwa rem motor ku hilang.

Terus hikmahnya apa, berat juga bila ditanya hikmah dari cerita ini. Bila Helm hilang ya hikmahnya lain kali helm dititipkan atau dibawa masuk ke ruangan. Bila motor hilang lain kali motor di kunci ganda. Bila rem hilang, any suggest? =)

Islam dan Partai islam

Ini adalah taun pertama aku mengikuti pemilu. Tidak seperti sebagian besar pemuda yang kurnag peduli dengan dunia Politik, aku adalah tipe orang yang sangat peduli padanya. Sejak jaman pemilu pasca reformasi 1999 disaat umurku masih baru menginjak belasan aku sudah memikirkan parpol dan perjuangannya di Indonesia.

Walau bapakku hanyalah guru yang jauh dari kehidupan politik, namun dia adalah orang yang sangat peduli dengan sosial kemasyarakatan, termasuk politik. Tidak jarang aku mendiskusikan berbagai parmasalahan sosial kemasyarakatan dengannya. Tidak jarang pula aku berbeda pendapat dengannya. Tapi hal itu kami sikapi dengan nyaman, perbedaan itu tidak membuat kami emosi atau bermasalah tapi justru membuat kami semakin paham dan percaya satu sama lain.

Mulai masalah poligami sampai politik, sejarah sampai fatwa MUI bisa kita diskusikan sampai kita lupa waktu. Aku jadi ingat ketika aku dan bapakku mendiskusikan pernikahan Syekh Puji dan Ulfa, saat itu aku menganggap Media salah besar ketika memojokkan pak Puji, karena itu melanggar privasi dan HAM. Apalagi tidak ada pihak yang dirugikan disana, semua sama sama suka. Namun bapakku yang mengnggap apa yang dilakukan pak Puji melanggar kewajiban dalam berbangsa dan bernegara, karena manikah adalah salah satu hal yang sudah diatur oleh pemerintah dan kita harus mengikutinya. =)

Begitu juga ketika pemilu ini. Kami sempat diskusi panjang membahas parpol lewat telepon. Kebetulan dalam pemilu kemaren kami mendukung partai yang berbeda. Bapak mendukung PAN ==>Sebuah partai kumpulan orang orang sholeh (karena dimotori oleh orang orang Muhammadiyah) namun merupakan partai Nasional ==> karena ingin diterima banyak kalangan (begitu katanya. Sedangakn aku mendukung PKS, wajar karena kehidupan kampus membuat aku sering bersentuhan dengan aktifis aktifis kampus. PKS sebagai organisasi yang dimotori oleh Aktifis Dakwah Kampus berusaha menjadi partai yang bersih, peduli dan profesional. Sedangkan Ibukku mendukung PBB, karena beliau dilahirkan di keluarga Masyumi, sebuah partai Islam yang menurutku partai yang benar benar Islam. Bahkan (dahulu) Masyumi berani memperjuangkan Islam sebagai dasar dari bangsa ini (bukan pancasila), akhirnya sampai di black list dari pemerintahan. Bila kita tengok jaman sekarang tidak ada lagi partai Islam (termasuk PKS yang aku dukung) memperjuangkan Islam sampai demikian.

Tapi kerennya, tanpa rekayasa pada pilpres kemaren kami sekeluarga mendukung pasangan Capres yang sama. Walau kalah, at least kami sudah berusaha berikan yang terbaik untuk bangsa dan agama ini. Melalui usaha kami, melalui suara kami.

Lebih Cepat Lebih Baik

Powered by Blogger.

Mutiara Hikmah

Yang Sedang Banyak Dibaca

Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Sahabat Bloggerku

Komentar Komentar Terbaru

International opportunities

Eramuslim

Web hosting for webmasters