Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Keseimbangan dan Kegalauan dalam film Habibie Ainun

Coretan sederhana dari film/novel Habibie Ainun
Secara umum dunia ini diciptakan Allah dengan penuh keseimbangan. Namun manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk membuatnya tidak seimbang, disinilah ujiannya. Ketika terjadi ketidakseimbangan maka yang muncul adalah gejolak. Contoh simple adalah akibat manusia membuang sampah yang tidak pada tempatnya, air yang awalnya penuh keseimbangan menjadi musibah. Air yang seimbang mendatangkan manfaat, namun karena keseimbangannya dirusak maka muculah gejolak, yang berupa banjir.
Dalam kehidupan manusia pun juga harus demikian, ketika manusia tidak seimbang dalam hidupnya maka yang datang adalah gejolak, yang popular sekarang dengan istilah “galau”. Contoh yang menarik adalah yang dapat kita lihat dalam kisah hidup Pak Habibie dan Bu Ainun dalam film/novel Habibie Ainun. Menurut saya pak Habibie adalah contoh sangat luarbiasa dalam hal keseimbangan.
Di masa mudanya, pak Habibie walau memiliki segudang prestasi di Jerman, namun merasa kehidupannya kurang seimbang. Walaupun berprestasi namun beliau merasa ada yang kurang dalam hidupnya yakni pendamping hidup. Dikisahkan, ketika pulang ke Indonesia beliau juga menyempatkan mencari pendamping hidup. Kemudian beliau melamar bu Ainun dan membawanya ke Jerman untuk memberikan keseimbangan dalam kehidupannya di Jerman.
Bu Ainun memiliki latar belakang sebagai dokter, namun di Jerman beliau tidak melaksanakan aktifitas sebagai dokter. Bu Ainun dan Pak Habibi, walaupun mereka sudah hidup berkecukupan, punya buah hati yang lucu lucu namun pada saat itu Bu Ainun masih muncul kegalauan. Ada yang kurang dalam hidupnya, yaitu berkarya dengan ilmu dan kompetensi yang dimilikinya, menjadi dokter. Sehingga, dengan harapan dapat membuat kehidupan yang lebih seimbang bu Ainun menjadi dokter di Jerman.

Naskah Piagam Jakarta

Bahwa sesungguhnja kemerdekaan itu jalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perdjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai (lah) kepada saat jang berbahagia dengan selamat-sentausa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indnesia, jang berkedaulatan rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja, menurut dasar kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.

Djakarta, 22 Juni 1945

Ir. Soekarno
Mohammad Hatta
A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Achmad Subardjo
Wachid Hasjim
Muhammad Yamin

Islam dan Partai islam

Ini adalah taun pertama aku mengikuti pemilu. Tidak seperti sebagian besar pemuda yang kurnag peduli dengan dunia Politik, aku adalah tipe orang yang sangat peduli padanya. Sejak jaman pemilu pasca reformasi 1999 disaat umurku masih baru menginjak belasan aku sudah memikirkan parpol dan perjuangannya di Indonesia.

Walau bapakku hanyalah guru yang jauh dari kehidupan politik, namun dia adalah orang yang sangat peduli dengan sosial kemasyarakatan, termasuk politik. Tidak jarang aku mendiskusikan berbagai parmasalahan sosial kemasyarakatan dengannya. Tidak jarang pula aku berbeda pendapat dengannya. Tapi hal itu kami sikapi dengan nyaman, perbedaan itu tidak membuat kami emosi atau bermasalah tapi justru membuat kami semakin paham dan percaya satu sama lain.

Mulai masalah poligami sampai politik, sejarah sampai fatwa MUI bisa kita diskusikan sampai kita lupa waktu. Aku jadi ingat ketika aku dan bapakku mendiskusikan pernikahan Syekh Puji dan Ulfa, saat itu aku menganggap Media salah besar ketika memojokkan pak Puji, karena itu melanggar privasi dan HAM. Apalagi tidak ada pihak yang dirugikan disana, semua sama sama suka. Namun bapakku yang mengnggap apa yang dilakukan pak Puji melanggar kewajiban dalam berbangsa dan bernegara, karena manikah adalah salah satu hal yang sudah diatur oleh pemerintah dan kita harus mengikutinya. =)

Begitu juga ketika pemilu ini. Kami sempat diskusi panjang membahas parpol lewat telepon. Kebetulan dalam pemilu kemaren kami mendukung partai yang berbeda. Bapak mendukung PAN ==>Sebuah partai kumpulan orang orang sholeh (karena dimotori oleh orang orang Muhammadiyah) namun merupakan partai Nasional ==> karena ingin diterima banyak kalangan (begitu katanya. Sedangakn aku mendukung PKS, wajar karena kehidupan kampus membuat aku sering bersentuhan dengan aktifis aktifis kampus. PKS sebagai organisasi yang dimotori oleh Aktifis Dakwah Kampus berusaha menjadi partai yang bersih, peduli dan profesional. Sedangkan Ibukku mendukung PBB, karena beliau dilahirkan di keluarga Masyumi, sebuah partai Islam yang menurutku partai yang benar benar Islam. Bahkan (dahulu) Masyumi berani memperjuangkan Islam sebagai dasar dari bangsa ini (bukan pancasila), akhirnya sampai di black list dari pemerintahan. Bila kita tengok jaman sekarang tidak ada lagi partai Islam (termasuk PKS yang aku dukung) memperjuangkan Islam sampai demikian.

Tapi kerennya, tanpa rekayasa pada pilpres kemaren kami sekeluarga mendukung pasangan Capres yang sama. Walau kalah, at least kami sudah berusaha berikan yang terbaik untuk bangsa dan agama ini. Melalui usaha kami, melalui suara kami.

Lebih Cepat Lebih Baik

Golput Bukan Pilihan

Akankah kita menjadi orang yang tidak peduli, akankah kita menjadi orang yang tidak memilih. Memilih atau tidak memilih, kita sama sama tau bahwa hal yang kita perbuat dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah SWT. Mungkin setiap orang punya hak atas sikapnya, namun setiap orang juga punya kewajiban untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Mungkin pemilu dan sistem yang ada di dalamnya bukanlah produk Islam, namun bila tidak ada yang terbaik bukankah kita usahakan untuk memilih yang paling baik di antara pilihan yang ada.

Bangsa ini perlu pemimpin yang baik, dan bersih. Jika kita tidak mencari dan memilih caleg/partai/capres yang baik dan bersih, bagaimana dengan nasib bangsa ini. Karena kita tidka mencari dan memilih yang baik dan bersih, bisa jadi orang yang tidak berkualitas yang menjadi pemimpin bangsa ini. Karena kita tidka mencari dan memilih yang baik dan bersih, orang kafir bisa mendominasi dalam pemilu dan memenangkan caleg/partai/capres yang jauh dari syariat islam.
Orang orang tak bertanggungjawab, koruptor, kafir dan atau munafik bisa jadi akan menguasai pemerintahan bangsa ini, dan itu berarti bangsa ini akan semakin jauh dari kesejahteraan, keadilan, kemandirian,dan syariat Islam.

Walaupun sistem yang ada belum seperti pemilihan kholifah Rosyidin.Dan belum ada caleg/partai/capres yang meneriakkan syariat Islam, setidaknya kita mencari caleg/partai/capres yang paling dekat dengan itu. Agar bangsa ini dipimpin oleh orang yang terbaik.

Bila tidak ada calon yang baik, pilihlah yang terbaik dari padanya.
Bila tidak menemukan yang terbaik, berusahalah mencari yang terbaik padanya.
Lebih baik kita berusaha memilih yang terbaik dari pada membiarkan yang terburuk memilih kita.
Semua yang kita perbuat akan dipertanggungjawabkan! Termasuk membiarkan kemungkaran memimpin kita.

Bangsa Indonesia is our responsibility

Narsisme Politik dimana mana

Jalan yang dipenuhi foto foto orang yang ga jelas,tempat tempat umum yang diwarnai dengan gambar partai yang semakin beragam, iklan iklan tivi yang dipenuhi dengan janji janji politik, dan situs situs internet yang ikut ikutan menjadi tempat kampanye politik.

Tidak hanya saya, nampaknya tidak sedikit orang orang yang merasa terganggu dengan hal ini. Mencoba untuk tidak peduli, tetapi tetap saja kita akan melihat. Mencoba untuk lebih peduli, semakin bingung akan banyaknya pilihan. Partai lama yang semakin giat menebarkan janji janji danprestasi, serta partai partai baru yang menjanjikan perubahan baru.

Pemilu 2009 bisa dibilang adalah pemilu paling ramai dalam sejarah Republik Ini. Semkin banyak jumlah dan jenis kampanye yang dikerahkan caLeg. Namun nampaknya semakin banyak pula yang merasa risih dan ga peduli terhadap agenda 5 tahunan Bangsa ini.

Jika kita risih melihat mereka narsis di berbagai tempat dan media, seharusnya kita ingat bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka.Sistem telah mendukung mereka untuk itu. Sistem politik di Indonesia memang terdisain untuk menganggarkan milyaran rupiah untuk kampanye dan memenuhi ruang ruang publik.

Jika kita tidak nyaman akan hal itu, kita harus peduli. Pilih caleg/partai/capres yang sekiranya dapat berusaha memperbaiki sistem itu menjadi lebih baik. Bila kita tidak  tau, seharusnya kita berusaha mencari tau, Golput Bukan Pilihan!

Peduli atau tidak peduli, setiap dari kita telah terdaftar sebagai pemilih di pemilu 2009 ini. Suka atau tidak suka, pemilu 2009 dan segala prosesnya akan terlaksana di 2009 ini.Milih atau tidak memilih, akan tetap ada caleg, partai dan presiden yang terpilih di pemilu 2009 ini.

Maka Peduli-lah
Powered by Blogger.

Mutiara Hikmah

Yang Sedang Banyak Dibaca

Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Sahabat Bloggerku

Komentar Komentar Terbaru

International opportunities

Eramuslim

Web hosting for webmasters