Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Keseimbangan dan Kegalauan dalam film Habibie Ainun

Coretan sederhana dari film/novel Habibie Ainun
Secara umum dunia ini diciptakan Allah dengan penuh keseimbangan. Namun manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk membuatnya tidak seimbang, disinilah ujiannya. Ketika terjadi ketidakseimbangan maka yang muncul adalah gejolak. Contoh simple adalah akibat manusia membuang sampah yang tidak pada tempatnya, air yang awalnya penuh keseimbangan menjadi musibah. Air yang seimbang mendatangkan manfaat, namun karena keseimbangannya dirusak maka muculah gejolak, yang berupa banjir.
Dalam kehidupan manusia pun juga harus demikian, ketika manusia tidak seimbang dalam hidupnya maka yang datang adalah gejolak, yang popular sekarang dengan istilah “galau”. Contoh yang menarik adalah yang dapat kita lihat dalam kisah hidup Pak Habibie dan Bu Ainun dalam film/novel Habibie Ainun. Menurut saya pak Habibie adalah contoh sangat luarbiasa dalam hal keseimbangan.
Di masa mudanya, pak Habibie walau memiliki segudang prestasi di Jerman, namun merasa kehidupannya kurang seimbang. Walaupun berprestasi namun beliau merasa ada yang kurang dalam hidupnya yakni pendamping hidup. Dikisahkan, ketika pulang ke Indonesia beliau juga menyempatkan mencari pendamping hidup. Kemudian beliau melamar bu Ainun dan membawanya ke Jerman untuk memberikan keseimbangan dalam kehidupannya di Jerman.
Bu Ainun memiliki latar belakang sebagai dokter, namun di Jerman beliau tidak melaksanakan aktifitas sebagai dokter. Bu Ainun dan Pak Habibi, walaupun mereka sudah hidup berkecukupan, punya buah hati yang lucu lucu namun pada saat itu Bu Ainun masih muncul kegalauan. Ada yang kurang dalam hidupnya, yaitu berkarya dengan ilmu dan kompetensi yang dimilikinya, menjadi dokter. Sehingga, dengan harapan dapat membuat kehidupan yang lebih seimbang bu Ainun menjadi dokter di Jerman.

TDL Naik Lagi


Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sudah diketok, DPR dan Pemerintah sudah sama sama sepakat dengan TDL yang baru. Telah disepakati tahun 2013 ini TDL naik 15 % dan dinaikkan secara bertahap per triwulan. Sebagai tukang listrik negara sebenarnya kenaikan  TDL ini tidak ngaruh dengan rutinitas saya. PLN sebagai perusahaan yang mengelola listrik di Indonesia tidak terlalu terasa efek dari kenaikan TDL ini. Kalaupun TDL tidak naik, kemudian selisih Biaya Pokok Penyediaan (BPP) dan TDL terlalu tinggi, toh akan ditutupi oleh subsidi. Subsidi listrik adalah konsekuensi dari TDL yang ditentukan oleh Pemerintah. Karena ini adalah amanat konstitusi, dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 disebutkan : bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Walau tidak disebutkan secara langsung, namun listrik dibangkitkan dari "bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya", sehingga Listrik harus dikuasai negara, diatur oleh negara.

Namun demikian, kadang saya merasa sakit hati ketika ada yang menyatakan listrik yang dijual PLN ini harganya mahal. PLN, dan rata rata perusahaan listrik di dunia ini menjual energi listrik per kWh atau kilo watt hour. 1 kwh itu energi yang cukup besar, karena 1 kWh itu cukup untuk menyalakan TV selama lebih dari 5 jam, bayangkan hiburan yang bisa didapatkan. 1 kWh itu juga cukup untuk menyalakan setrika selama lebih dari 3 jam, bayangkan berapa banyak baju yang bisa rapi karenanya. 1 kwh itu cukup untuk menyalakan lampu hemat energi untuk menerangi kamar, selama lebih dari 40 jam.

Alasan listrik PLN mati

Curhat Tukang Listrik bagian 3

"Tulisan ini sedikit menjelaskan mengapa listrik terkadang tiba tiba mati tanpa pemberitahuan"

Sejak menjadi bagian dari perusahaan listrik plat merah ini, rasanya listrik dan perusahaan ini sudah menjadi bagian dari diri saya. Ketika perusahaan ini dicaci maki, ketika dinggap sarang korupsi, atau ketika listrik mati. Duh, rasanya bernafas saja rasanya menjadi kurang nyaman. Rasanya serba tidak nyaman dan merasa bersalah. Ketika listrik mati, entah berapa ratus kali telepon di kantor PLN berdering, dan ketika diangkat entah berapa jenis kata kata kotor atau penduduk kebun binatang yang dipanggil. Astagfirullah, ujian kesabaran memang.

Kalaupun sedang tidak piket, atau bahkan sedang tidak berada di daerah kerja saya, ketika pulang ke rumah misalnya. Kemudian listrik mati, walaupun seharusnya tidak ada hubungan langsung apalagi tanggungjawab saya tapi rasanya tetap tidak nyaman dan penuh rasa bersalah. Entah kenapa, sering kali ketika melihat ada daerah yang sedang mati listrik, rasanya sangat tidak nyaman bahkan hanya untuk sekedar bernafas. Agak lebay mungkin bagian ini, tapi rasanya memang demikian.

Mungkin memang banyak orang yang merasa terganggu bila listrik mati, namun sebenarnya PLN lebih merasa terganggu daripada orang orang tersebut. PLN ada karena mau jualan listrik, kalau listrik mati ya PLN tidak dapat jualan listrik, tidak ada yang dijual brarti tidak ada pemasukan ke perusahaan, simple nya seperti itu. Ketika listrik mati, maka petugas PLN akan dipusingkan mencari penyebab gangguan untuk menyalakan kembali daerah yang padam. Mencari penyebab pemadaman dilakukan dengan menyusuri jaringan listrik untuk melihat kejanggalan yang ada. Mungkin ada ranting yang menyentuh jaringan, atau layang layang tersangkut, atau bahkan ada peralatan yang rusak. Kemudian kalaupun terpaksa harus padam, karena perbaikan atau gangguan tidak dapat segera dihilangkan, maka diupayakan daerah yang padam dapat seminimal mungkin.

Pengalaman Lucu di Tana Toraja

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi bagian 5

Berkesempatan untuk tinggal bebapa bulan di Sulawesi Selatan, sayang rasanya kalau tidak mengunjungi Tana Toraja. Toraja adalah nama Suku, sekaligus juga kota. Ada apa disana? intinya cuman lihat kuburan, lihat mayat mayat manusia yang berserakan dimana mana, tapi yang banyak terlihat berserakan sih yang sudah tinggal tulang belulang. Mayat mayat yang usianya sudah lebih dari 20 tahun. Budaya yang cukup aneh menurut saya, bukan unik lho ya.... aneh. Mayat keluarga mereka tidak dikubur, namun hanya dibalsem dan dimasukkan ke dalam peti dan diletakkan di dalam goa. Jadi kalau peti yang terbuat dari kayu itu rusak, ya jangan salahkan si mayat kalau dia nongol muncul berserakan di sepanjang jalan. BIla di Jawa, melihat sepotong kecil tulang di kuburan rasanya sudah ngeri banget, namun di Tana Toraja, melihat tengkorak manusia berjajar rasanya biasa saja. Yang lebih aneh lagi, mengapa mereka begitu nyamannya "mengeksploitasi" mayat leluhur mereka untuk meraup rupiah, dengan menjadikan makam leluhurnya sebagai objek wisata. Bagi kita yang muslim tentu hal seperti ini adalah hal yang sangat tidak biasa.

PLN ulang tahun ya?


Curhat tukang listrik bagian 2

 "Sedikit menjelaskan tentang biaya pasang baru listrik"


Di suatu siang di salah satu kantor pelayanan pelangan PLN. Seorang bapak dengan pakaian lusuh yang sepertinya habis dari ladang terlihat ikut antri dengan beberapa orang lain yang hendak meminta/mendaftar pelayanan dari PLN. Nampak sekali sisa lumpur di baju dan sendal yang dipakainya. Setelah lama mengantri akhirnya namanya dipanggil, dan dengan penuh antusias bapak tersebut bertanya kepadan petugas PLN.

Bapak : Pak, PLN lagi ulang tahun ya?

Petugas PLN : Ndak pak, memang kenapa?

Bapak : Sampai kapan daftar bayar listrik murah seperti ini?, saya sekarang belum ada uang, boleh ndak saya daftar dulu, mumpung murah. Nanti kalau saya sudah ada uang saya lunasin

Petugas PLN : Ndak lagi ulang tahun pak, memang harganya selalu seperti ini. Asalkan bapak daftar sesuai prosedur PLN biayanya ya seperti ini saja.

Bapak : Ya sudah pak trimakasih, saya kumpulkan uang dulu untuk daftar listrik.

Kapan mi masuk listrik?

Curhat Tukang Listrik bagian 1

Seorang anak kecil yang lugu dengan pakaian SD nya mendatangiku dan menanyakan pertanyaan itu. Di Sulawesi Selatan, rumpun bahasa di sini (Bugis, Makassar, Toraja) mengunakan kata “mi”, “ki” atau “ji” di sela atau akhir kalimat. Misal : “Sudah makan ki?”, “harganya sudah pas ji”, hampir setiap bicara selalu menggunakan potongan kata “mi”, “ki” atau “ji” tidak pernah terlupa.

Siang itu kami ikut pekerjaan pemasangan tiang JTM. JTM adalah Jaringan Tegangan Menengah, kalau di Indonesia (PLN) memakai tegangan 20.000 V. JTM ini yang digunakan untuk mendistribusikan listrik ke pelanggan sebelum nantinya diturukan menjadi 220 V dan dinikmati pelanggan. Bila suatu daerah tidak kita temukan JTM maka hanya ada 2 kemungkinan pertama adalah daerah tersebut belum dapat menikmati listrik PLN sejak Indonesia Merdeka atau terpaksa menggunakan JTR (Jaringan Tegangan Rendah) untuk mengalirkan listrik. Karena mendistribusikan listrik menggunakan tegangan rendah (220 V) maka tentu kualitas nya akan jelek terutama untuk jarak yang cukup jauh (>400m).
Untuk kasus yang kami kerjakan kemarin, beberapa rumah sudah “terpaksa” menggunakan JTR sepanjang lebih dari 2 km untuk mendapatkan listrik. Namun ada beberapa rumah yang belum mendapat listrik.

Pertanyaan anak kecil itu begitu dalam bagiku, “kapan mi masuk listrik?” dengan logat bugis yang kental dan penuh harap anak itu bertanya kepadaku. Tentu dia berharap listrik di daerahnya segera “ lancar” sehingga dia dan tetangganya dapat menikmati listrik dengan kualitas yang lebih baik juga membuat beberapa rumah yang belum mendapat sambungan listrik dapat mendapatkanya.

Pernikahan Bugis dan Uang Naik (Panai')

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi bagian 4

Pakaian adat Sulawesi Selatan
Tidak seperti daerah lain yang menggunakan mahar sebagai salah satu syarat pernikahan. Di Bugis selain Mahar ada uang naik (panai') yang harus disipakan ketika sebelum memutuskan untuk menikah.
Uang panai' ini adalah sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang akan digunakan untuk keperluan mengadakan pesta pernikahan dan belanja pernikahan lainnya. Uang panai' ini tidak terhitung sebagai mahar penikahan melainkan sebagai uang adat namun terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak atau keluarga.

Uang panai' untuk menikahi wanita bugis-makassar terkenal tidak sedikit jumlahnya. Dari informasi yang saya terima tingkat strata sosial wanita serta tingkat pendidikannya biasanya menjadi standar dalam penentuan jumlah uang naik. Jadi, jika calon mempelai wanita adalah keturunan darah biru (biasanya namanya ada Andi nya), maka uang naiknya akan berpuluh-puluh juta. Begitupun jika tingkat pendidikan calon mempelai wanita adalah S1, S2, atau Kedokteran, maka akan berlaku hal yang sama.

Rumah Bugis Dapat Dipindah

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi bagian 3

Di Sulawesi Selatan, sebagian besar rumah nya adalah rumah adat. Rumah adat Suku Bugis disebut rumah panggung, terbuat dari kayu dan dipanggung, tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

Saya pernah bertanya kepada penduduk setempat, kenapa membuat rumahnya kok dipanggung, tidak diatas tanah langsung. Ternyata beliau belum bisa menjawabnya, ya hanya dijawab dengan ini adat mas. Tidak seperti di Jawa yang rumah rumah Joglo sudah semakin ditinggalkan, di Bugis rumah panggung justru menjadi primadona dan status sosial. Ketika seseorang mampu mendirikan rumah panggung yang bagus, besar dan terbuat dari kayu ulin, jenis kayu yang sangat keras, maka status sosialnya di masyarakat sekitarnya akan meningkat.

Membuat rumah adat bugis dengan kayu ulin memang sangat mahal, saat ini biayanya bisa mencapai milyaran rupiah, bagaimana tidak, jumlah kayu ulin yang semakin terbatas, dan penebangan liar yang semakin dibatasi pemerintah membuat usaha dan biaya untuk mendapatkan kayu jenis ini sangat besar. Sehingga rata rata rumah panggung yang baru dibangun tidak menggunakan kayu ulin, walau dari segi kualitas dan daya tahan belum ada kayu yang menandingi kualitas kayu ulin, begitu cerita salah seorang bapak di kantor tempat kami mengais rejeki.

Suku Bugis Sangat Menghargai Pendatang

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi Bagian 2

Suatu ketika kami sekontrakan memberikan sebungkus kue yang dibeli di pinggir jalan kepada tetangga sebelah kontrakan yang kebetulan adalah rekan kerja di kantor tempat kami sekontrakan mengais rupiah. Beberapa hari kemudian kami dibalas dengan undangan makan makan besar yang benar benar besar. Kami jadi merasakan beberapa makanan khas Bugis yang cukup aneh mungkin bagi lidah Jawa, seperti Lawa ikan, katanya sih dibuat dari ikan Seribu yang masih segar, kemudian ketika masih mentah ditumbuk halus dan dicampur dengan mangga muda, parutan kelapa, dan jeruk nipis.

Juga ada makanan bernama Sambal Dabu dabu, semacam sambal yang dibuat dari daun kemangi, tomat, cabai, dan kecap, namun semuanya tidak ditumbuk halus apalagi disangrai, cukup dipotong keci kecil dan dicampur begitu saja. Selain itu ada beberapa makanan lain yang tidak jauh berbeda dengan di jawa seperti Sop Tulang, sayur bayam, bakwan, dan beberapa jenis ikan yang digoreng. Karena Pare pare berada di pesisir Pantai, maka disini banyak tersedia ikan ikan segar, mantab!

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi Bagian 1

Dalam rangka memenuhi kewajiban  sebagai abdi negara membuatku harus mendamparkan diri di salah satu pulau dengan bentuk paling unik di Dunia, sebuah pulau yang sangat besar, dan menyerupai huruf K. Ya pulau sangat indah ini bernama Sulawesi.

Aku tinggal di kota tempat lahir satu satu nya presiden Indonesia dari luar suku Jawa, sekaligus salah satu tokoh Indonesia paling keren yang pernah kukenal, BJ Habibie. Ya, kota itu bernama Parepare, sebuah kota kecil di pantai barat Sulawesi, kota yang cukup sederhana. Mereka bilang ini adalah kota terbesar kedua di propinsi paling maju di Indonesia Timur (yaitu Sulawesi Selatan), namun sangat sederhana. Disini tidak akan kita temukan Bioskop apalagi 21, disini tidak dapat kita temukan Mal, apalagi Carefour, disini juga tidak ada PTN apalagi UGM :D.

Meskipun demikian mereka menyebut Parepare sebagai kota terbesar kedua di Sulawesi Selatan, namun nampaknya memang demikian, dibandingkan kabupaten kabupaten lain di Sulawesi Selatan kondisi Parepare dapat dibilang "lebih mendingan". "Ternyata kondisi pembangunan di luar jawa sangat memprihatinkan, bila seperti ini Sulawesi Selatan, bagaimana dengan Maluku dan Papua?", demikian gumamku dalam hati.

Kamu, lu, koe, sampeyan, dirimu, you, atau antum?

(Sebuah analisis bahasa tanpa literatur yang jelas dan sangat subjektif)

Artinya sama kan? iya, emang semua kata tersebut bermanka sama, kata bu guru bahasa Indonesia, kata kata tersebut adalah sama sama kata ganti orang kedua. Tapi meskipun maknanya sama, seringkali saya menemukan berbagai orang yang bingung memilih kata apa yang tepat untuk digunakan ketika sedang bercakap cakap. Mungkin kamu juga pernah merasakanya.

Seringkali ketika bercakap cakap, ada orang yang biasa menggunakan kata kamu, tapi karena lawan bicaranya menggunakan kata lo (dan gue), maka kemudian baik orang pertama dan kedua akan sama sama kikuh, karena "kamu" dibalas dengan "lo", dan "lo" dibalas dengan "kamu". Beberapa indikator paling jelas kalau mereka sedang kikuh adalah ketika mereka tau kalau ada perbedaan penggunaan kata ganti orang kedua maka mereka:
1. Mengucapkan kata ganti dengan lebih pelan (bisa karena ragu, kikuh, dll)
2. Mengucapkan kata ganti yang berbeda; misal dari "lo" ke "kamu", atau sebaliknya.
3. Menunda sekian detik sebelum mengucapkan kata ganti; bisa karena gak enak atau karena berfikir.
4. Menggunakan kata ganti yang kaku atau kurang lazim, misal "dirimu"

Ternyata penggunaan kata ganti ini juga menimbulkan kesan tersendiri, ada yang menimbulkan kesan romantis, agamis, atau bahkan angkuh. Berikut adalah kesan yang ditimbulkan penggunaan kata ganti secara sosiologi menurut pengamatan saya (nah!! saya juga mulai bingung menggunakan kata ganti orang pertama, pakai "saya", "aku", atau "ane"; karena dalam percakapan sehari hari tiga kata ini yang sering; atau mungkin selalu kugunakan). Berikut analisisnya :

Aku dan Kamu; Bagi orang Jawa (jawa timur, jawa tengah) mungkin menggunakan aku dan kamu ketika berbicara dalam bahasa Indonesia adalah hal yang biasa. Tidak ada kesan spesial yang ditimbulkan ketika menggunakan kata ganti aku dan kamu, tapi bagi orang jawa barat dan sekitarnya penggunaan Aku dan Kamu konon bisa memunculkan kesan romantis. Saya jadi ingat cerita teman saya yang asli Jogja (Cowok) ketika mengikuti suatu kegiatan mahasiswa yang diadakan oleh salah satu perusahaan Otomotif di Jakarta. Kegiatan itu diikuti oleh berbagai Kampus di Indonesia, sehingga disana ditemui juga mahasiswa dari Jakarta dan Bandung. Ketika dia ngomong dengan cewek (yang kebetulan orang Jakarta) dengan menggunakan kata ganti aku dan kamu,
si cewek bilang, "eh lo kok ngomongnya romantis banget sih"; GLODAK!!! temanku jawab, "Romantis dari mananya!?",
Ceweknya bales lagi, "habisnya lo manggil gue nya pake kamu segala sih".

Gua dan Lu; Kalau kita nonton TV yang bersetting anak muda Jakarta, kata ganti ini yang hampir selalu digunakan. Ya... memang karena kata ganti ini banyak di pakai di sekitar jawa barat. Tapi, entah kenapa, bila mendengar orang menggunakan kata ganti ini ketika bercakap cakap di kampus (kebetulan kampus saya di Jogja), rasanya kok terasa aneh dan muncul kesan angkuh. Walaupun tentu orang yang menggunakan kata ganti ini tidak berniat untuk angkuh, tapi menurut sebagian besar mahasiswa Jawa yang saya kenal, penggunaan kata ganti "Gua" dan "Lu" menimbulkan kesan angkuh.

Koe dan sampeyan; dua kata ganti orang kedua dari bahasa Jawa ini sama sama berarti "kamu" dalam bahasa Indonesia. Namun, entah kenapa saya lebih nyaman menggunakan kata sampeyan ketimbang koe ketika ngobrol dengan bahasa Jawa (bahkan terkadang juga dalam bahasa Indonesia). Rasanya tabu dan bagiku terkesan kasar menggunakan kata Koe. Kalau tidak salah, dulu pernah kudengar (pas masih kecil), "koe" itu artinya anak dari monyet. Entah benar atau salah, yang jelas hal itu yang membuatku menjadi tidak nyaman menggunakan kata ganti koe dalam bercakap cakap. Kata "sampeyan" lah yang sejak kecil dibiasakan dikeluargaku. Namun, di rumah seringkali kata "sampeyan" disingkat menjadi "pean" atau "mean"; walaupun hanya disingkat, tetapi entah kenapa bila ada orang yang menggunakan kata "pean" atau "mean" ketika berbicara denganku terasa lebih dekat dan hangat. Mungkin karena kata "mean" lah yang kugunakan untuk berbicara dengan orang orang terdekatku sejak kecil (bapak, ibuk, adik dan beberapa sepupu-sepupu).

Dirimu dan You; Dua kata ganti orang kedua yang paling tidak nyaman untuk kudengar bila digunakan dalam suatu kalimat atau percakapan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Bila ada orang yang menggunakan dua kata itu, entah kenapa muncul kesan kurang akrab sehingga komunikasi menjadi kurang nyaman. Terlebih kata ganti "Dirimu", sering kudengar bila seseorang memiliki masalah dalam menentukan kata ganti yang pas ketika berkomunikasi. Kalau "you", entah kenapa, rasanya ndak pas banget ketika kata itu digunakan dalam kalimat berbahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Tapi entah kenapa ada juga beberapa orang yang masih sering menggunakanya.

Ana, ane, anta dan antum. Keempat kata ganti orang dari bahasa arab (kecuali ane yang "di-arab2kan) yang sering digunakan oleh kalangan sholeh (atau sok sholeh). Sehingga dengan menggunakan kata ganti ini muncul kesan sebagai orang yang sholeh (atau golongan sholeh, atau golongan orang yang dianggap sholeh, atau bahkan dari golongan ormas Islam atau bahkan parpol Islam tertentu). Ana dan ane bermakna sama yakni saya. Tapi, saya rasanya lebih nyaman menggunakan kata ane ketimbang ana (biasanya sih kugunakan ketika bersama komunitas orang2 sholeh). Mungkin karena kata ane, masih terkesan ke arab arab-an namun tidak terlalu memunculkan kesan sok sholeh dan bahkan kata ane sekarang banyak digunakan di bahasa online, utamanya karena dipopulerkan oleh para KASKUS-esr beberapa tahun terahir. Sedangkan kata ana, lebih memunculkan kesan sholeh, sehingga saya kurang nyaman menggunakanya, munkin karena masih murni bahasa Arab dan nyatanya hanya dipakai oleh orang orang yang sholeh atau sok sholeh tadi, maksud saya sangat jarang dipakai di bahasa lain (seperti ane yang dipakai komunitas Internet atau kaskus-ers misalnya).

Akhirnya, sebagai penutup saya ingin menyatakan bahwa analisis ngawur ini adalah analisis tanpa dasar teori yang jelas dan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hanya berdasarkan analisis personal saya berdasar pengalaman pribadi saja. Semoga bermanfaat.

Naskah Piagam Jakarta

Bahwa sesungguhnja kemerdekaan itu jalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perdjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai (lah) kepada saat jang berbahagia dengan selamat-sentausa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indnesia, jang berkedaulatan rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja, menurut dasar kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.

Djakarta, 22 Juni 1945

Ir. Soekarno
Mohammad Hatta
A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Achmad Subardjo
Wachid Hasjim
Muhammad Yamin

Utang Indonesia Pada Ummat Islam

Oleh Herry Nurdi Penulis, Wartawan Islam

Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.

Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.

Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.

Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.

Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).

Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.

Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat Bismillahirrahmanirrahim dan ditutup dengan Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!
Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.

Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?

Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.

Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.

Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.

Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam. Wallahu a’lam .( dikutip dari republika 28/08/2009)

Islam dan Partai islam

Ini adalah taun pertama aku mengikuti pemilu. Tidak seperti sebagian besar pemuda yang kurnag peduli dengan dunia Politik, aku adalah tipe orang yang sangat peduli padanya. Sejak jaman pemilu pasca reformasi 1999 disaat umurku masih baru menginjak belasan aku sudah memikirkan parpol dan perjuangannya di Indonesia.

Walau bapakku hanyalah guru yang jauh dari kehidupan politik, namun dia adalah orang yang sangat peduli dengan sosial kemasyarakatan, termasuk politik. Tidak jarang aku mendiskusikan berbagai parmasalahan sosial kemasyarakatan dengannya. Tidak jarang pula aku berbeda pendapat dengannya. Tapi hal itu kami sikapi dengan nyaman, perbedaan itu tidak membuat kami emosi atau bermasalah tapi justru membuat kami semakin paham dan percaya satu sama lain.

Mulai masalah poligami sampai politik, sejarah sampai fatwa MUI bisa kita diskusikan sampai kita lupa waktu. Aku jadi ingat ketika aku dan bapakku mendiskusikan pernikahan Syekh Puji dan Ulfa, saat itu aku menganggap Media salah besar ketika memojokkan pak Puji, karena itu melanggar privasi dan HAM. Apalagi tidak ada pihak yang dirugikan disana, semua sama sama suka. Namun bapakku yang mengnggap apa yang dilakukan pak Puji melanggar kewajiban dalam berbangsa dan bernegara, karena manikah adalah salah satu hal yang sudah diatur oleh pemerintah dan kita harus mengikutinya. =)

Begitu juga ketika pemilu ini. Kami sempat diskusi panjang membahas parpol lewat telepon. Kebetulan dalam pemilu kemaren kami mendukung partai yang berbeda. Bapak mendukung PAN ==>Sebuah partai kumpulan orang orang sholeh (karena dimotori oleh orang orang Muhammadiyah) namun merupakan partai Nasional ==> karena ingin diterima banyak kalangan (begitu katanya. Sedangakn aku mendukung PKS, wajar karena kehidupan kampus membuat aku sering bersentuhan dengan aktifis aktifis kampus. PKS sebagai organisasi yang dimotori oleh Aktifis Dakwah Kampus berusaha menjadi partai yang bersih, peduli dan profesional. Sedangkan Ibukku mendukung PBB, karena beliau dilahirkan di keluarga Masyumi, sebuah partai Islam yang menurutku partai yang benar benar Islam. Bahkan (dahulu) Masyumi berani memperjuangkan Islam sebagai dasar dari bangsa ini (bukan pancasila), akhirnya sampai di black list dari pemerintahan. Bila kita tengok jaman sekarang tidak ada lagi partai Islam (termasuk PKS yang aku dukung) memperjuangkan Islam sampai demikian.

Tapi kerennya, tanpa rekayasa pada pilpres kemaren kami sekeluarga mendukung pasangan Capres yang sama. Walau kalah, at least kami sudah berusaha berikan yang terbaik untuk bangsa dan agama ini. Melalui usaha kami, melalui suara kami.

Lebih Cepat Lebih Baik

Golput Bukan Pilihan

Akankah kita menjadi orang yang tidak peduli, akankah kita menjadi orang yang tidak memilih. Memilih atau tidak memilih, kita sama sama tau bahwa hal yang kita perbuat dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah SWT. Mungkin setiap orang punya hak atas sikapnya, namun setiap orang juga punya kewajiban untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Mungkin pemilu dan sistem yang ada di dalamnya bukanlah produk Islam, namun bila tidak ada yang terbaik bukankah kita usahakan untuk memilih yang paling baik di antara pilihan yang ada.

Bangsa ini perlu pemimpin yang baik, dan bersih. Jika kita tidak mencari dan memilih caleg/partai/capres yang baik dan bersih, bagaimana dengan nasib bangsa ini. Karena kita tidka mencari dan memilih yang baik dan bersih, bisa jadi orang yang tidak berkualitas yang menjadi pemimpin bangsa ini. Karena kita tidka mencari dan memilih yang baik dan bersih, orang kafir bisa mendominasi dalam pemilu dan memenangkan caleg/partai/capres yang jauh dari syariat islam.
Orang orang tak bertanggungjawab, koruptor, kafir dan atau munafik bisa jadi akan menguasai pemerintahan bangsa ini, dan itu berarti bangsa ini akan semakin jauh dari kesejahteraan, keadilan, kemandirian,dan syariat Islam.

Walaupun sistem yang ada belum seperti pemilihan kholifah Rosyidin.Dan belum ada caleg/partai/capres yang meneriakkan syariat Islam, setidaknya kita mencari caleg/partai/capres yang paling dekat dengan itu. Agar bangsa ini dipimpin oleh orang yang terbaik.

Bila tidak ada calon yang baik, pilihlah yang terbaik dari padanya.
Bila tidak menemukan yang terbaik, berusahalah mencari yang terbaik padanya.
Lebih baik kita berusaha memilih yang terbaik dari pada membiarkan yang terburuk memilih kita.
Semua yang kita perbuat akan dipertanggungjawabkan! Termasuk membiarkan kemungkaran memimpin kita.

Bangsa Indonesia is our responsibility

Narsisme Politik dimana mana

Jalan yang dipenuhi foto foto orang yang ga jelas,tempat tempat umum yang diwarnai dengan gambar partai yang semakin beragam, iklan iklan tivi yang dipenuhi dengan janji janji politik, dan situs situs internet yang ikut ikutan menjadi tempat kampanye politik.

Tidak hanya saya, nampaknya tidak sedikit orang orang yang merasa terganggu dengan hal ini. Mencoba untuk tidak peduli, tetapi tetap saja kita akan melihat. Mencoba untuk lebih peduli, semakin bingung akan banyaknya pilihan. Partai lama yang semakin giat menebarkan janji janji danprestasi, serta partai partai baru yang menjanjikan perubahan baru.

Pemilu 2009 bisa dibilang adalah pemilu paling ramai dalam sejarah Republik Ini. Semkin banyak jumlah dan jenis kampanye yang dikerahkan caLeg. Namun nampaknya semakin banyak pula yang merasa risih dan ga peduli terhadap agenda 5 tahunan Bangsa ini.

Jika kita risih melihat mereka narsis di berbagai tempat dan media, seharusnya kita ingat bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka.Sistem telah mendukung mereka untuk itu. Sistem politik di Indonesia memang terdisain untuk menganggarkan milyaran rupiah untuk kampanye dan memenuhi ruang ruang publik.

Jika kita tidak nyaman akan hal itu, kita harus peduli. Pilih caleg/partai/capres yang sekiranya dapat berusaha memperbaiki sistem itu menjadi lebih baik. Bila kita tidak  tau, seharusnya kita berusaha mencari tau, Golput Bukan Pilihan!

Peduli atau tidak peduli, setiap dari kita telah terdaftar sebagai pemilih di pemilu 2009 ini. Suka atau tidak suka, pemilu 2009 dan segala prosesnya akan terlaksana di 2009 ini.Milih atau tidak memilih, akan tetap ada caleg, partai dan presiden yang terpilih di pemilu 2009 ini.

Maka Peduli-lah

Wanita Berkalung Sorban dan Sebuah Kritikan dan Koreksi

MUI sempat meminta untuk film ini dikoreksi ulang, MUI menganggap ada beberapa aspek dalam film ini yang tidak sesuai bila menggunakan latar belakang islami. Nah hal ini yang membuat kami (aku dan adiku) kemarin tertarik untuk menonton film ini. Apa yang membuat MUI menganggap ada beberapa aspek dari film ini yang perlu dikoreksi.

Menurutku film ini tidak berusaha menonjolkan Islam, atau mendakwahkan Islam. Mungkin hanya menjadikan Islam sebagai latar dari film ini. Feminisme -- hal yang diteriakkan wanita berkalung sorban dari awal sampai akhir film. 

Islam adalah agama yang turun atas wahyu dari Allah SWT yang disampaikan melalui Muhammad. Dan dirupakan berupa AlQuran yang berisi wahyu dan Hadits yang berisi contoh, perkataan dan sikap dari Rosulullah. Maka jika film ini menonjolkan sisi Islam, atau setidaknya feminisme yang islami maka setidaknya film ini harus menggunakan dalil AlQuran dan Hadits untuk menjelaskan konsep itu, bukan berdasar buku buku dari barat. Itulah islam

Memang Islam tidak melarang keta untuk mempelajari buku buku dari barat, tidak ada larangan untuk itu. Tapi ingat dasar Islam adalah AlQuran dan Hadits, maka ketika buku buku dari barat itu tidak bertentangan dengan keduanya, fine.
Tetapi ketika ternyata buku buku dari barat itu bertentangan dengan AlQuran dan Hadits, kemudian kita meyakininya, jelas..... itu salah. Apalagi bila hal itu disandarkan kepada Islam, itu salah kaprah

Kebebasan, itu salahsatu hal yang digaungkan dalam film ini. Memang Islam mengajarkan kebebasan, kebebasan berpendapat , kebebasan perEkspresi. memang, tapi ingat! ini Islam. semua konteks dianggap Islami bila sesuai dengan AlQuran dan hadits, bukan hati nurani. Hati nurani yang mudah terkena tipu daya syetan. bukan itu,, Maka setiap kebebasan itu harus disandarkan kepada AlQuran dan Hadits, tidak sembarangan. 
Mungkin larangan Kyai yang melarang wanita untuk berkuda itu tidak tepat, dan memang kyai bukan rosul yang pasti benar setiap kata katanya. Tetapi tetap, membangkang perintah orang tua adalah salah. dan Tidak mengikuti sunnah adalah kesalahan besar.

Semua Perbuatan tergantung dari Niatnya. sebuah potongan hadits yang sempat digunakan tokoh utama dalam film ini sebagai dasar terhadap apa yang dia lakukan. Menempatkan potongan hadits ini dalam setiap kondisi adalah hal yang salah. 
Sesungguhnya potongan hadits "Semua Perbuatan tergantung dari Niatnya" adalah potongan hadits tentang hijrah. 
Hijrah adalah suatu hal yang baik dan sesuai dengan syariah dan diperintahkan oleh Allah. Maka hadits ini sesuai ditempatkan disana. Niat seorang dalam melaksanakan hijrah (atau hal lain yang sesuai dengan syariah) mempengaruhi amalanya(pahala). Tapi bila hal itu adalah hal yang salah, yang tidak sesuai dengan syariah (alQuran dan Hadits), biarpun niatnya baik ---- ya tetap salah.

misalnya :
seorang yang berzina walaupun niatnya baik (untuk menolong seseorang misalnya) ==> yang dilakukan ini tetaplah salah
seseorang yang melalaikan sholat walaupun niatnya untuk kebaikan (untuk belajar misalnya) ==> yang dilakukan ini tetaplah salah.

Satu hal lagi, sedikit koreksi tentang hukum rajam yang akan dilaksanakan di pondok pesantren kepada Anisa. Ada hal yang tidak tepat ketika pondok pesantren melaksanakan hukuman rajam. pertama, pondok pesantren bukanlah pemerintahan yang sah, sehingga tidak sah melaksanakan eksekusi hukuman sesuai dengan syariat Islam. Tidak seperti Daerah Istimewa Aceh, misalnya yang melaksanakan hukuman sesuai syariat Islam, - karena memang pemerintah propinsi Aceh memang menerapkan syariat itu.Dan mereka pemenrintah yang sah, jadi mereka layak melaksanakan eksekusi hukuman syariat Islam itu. Maka yang boleh melaksanakan eksekusi hukuman syariat islam tidak lain tidak bukan adalah pemerintah yang sah, tidak pula orang yang tidak pernah berbuat dosa - seperti yang disampaiakn di film tersebut.

Jadi tidak layak seorang kyai, apalagi suami melaksanakan hukuman rajam (atau hukuman syariat Islam yang lain... cambuk misalnya). Hal seperti ini yang akhir akhir ini sering ditampakkan di layar kaca, seorang ayah yang mencambuk anaknya, atau suami yang mencambuk Istrinya dengan alasan pelaksanaan syariat Islam. Itu salah kaprah.

Hukuman rajam juga hanya diberikan kepada seorang suami atau istri yang berzina. Nah zina di sini harus benar benar jelas (jelas apa yang mereka lakukan, benar benar bersetubuh atau hanya bercengkrama) dan dengan saksi yang jelas dan dengan jumlah yang cukup. Tidak bisa seenaknya melaksanakan rajam kepada seorang yang berduaan di tempat sepi (kholwat) yang tidak jelas apa yang mereka lakukan.

maaf bila banyak kekurangan, semoga bermanfaat

Apa yang bisa kita berikan untuk Palestina

4D (Demo, Dana, Doa, dan Lain Lain)

Demo
Aksi turun ke jalan yang dilakukan berbagai ormas Islam di Indonesia menurutku merupakan hal yang tepat. Ini merupakan sarana untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita menolak, mengecam, agresi Biadab Israel itu. Ini juga bisa digunakan sebagai sarana pemberi informasi kemada masayrakat dan Umat. Informasi kekejaman Israel di Palestina ke Masyarakat. Ternyata tidak sedikit pula Umat muslim di Indonesia yang tidak tau pembantaian Israel di Pelestina ini. Aksi turun ke jalan juga dapat digunakan sebaga sarana untuk mengumpulkan dana kemanusiaan bagi Palestina. Tidak sedikit juga Umat Islam yang ingin menyumbang tapi tidak tau kemana harus menyumbang

Dana
Tidak banyak yang dapat kita perbuat untuk Palestina. Mungkin salah satu hal paling realistis ketika kita memberikan bantuan ke palestina adalah dengan Dana. Dana kemanusiaan akan dikirimkan baik melalui pemerintah ataupun jalur lain. Akan dirupakan Obat Obatan, Makanan , Ambulance dan lain lain. Walau memasukkan bantuan kemanusiaan ke Palestina bukanlah hal yang mudah, tetapi KITA HARUS TETAP BERJUANG

Salah satunya dapat melalui SMS Donasi MERC PEDULI. Program sms donasi ini merupakan layanan yang disediakan oleh Departemen Sosial RI bekerjasama dengan sejumlah operator seperti Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, XL dan Mobile-8. Untuk Telkomsel, Indosat, Flexi, Esia, tarif sms adalah Rp 6.600,- sudah termasuk donasi Rp 5.000,- ditambah biaya operator dan PPn. Sementara untuk pengguna XL dan mobile-8 tarif sms adalah Rp 5.000,- sudah termasuk donasi Rp 3.750,- ditambah biaya operator dan PPn.

caranya sangat mudah:
ketik MERC PEDULI kirim ke 7505

Doa
Nah ini hal yang paling sederhana dan tidak boleh dilewatkan oleh kita.
1. Mendoakan Palestina agar diberi kekuatan dan ketabahan serta agar Palestina segera terbebaskan dari penjajaan gila ini
2. Memohon kebinasaan bagi Israel dan sekutunya.
Telah berkata Annas: Bahwasanya Rasulullah SAW pernah qunut sebulan, sesudah ruku, di shalat subuh, yaitu ia doakan kebinasaan atas Bani 'Ushaiyah (HR Muslim)
3. mendoakan agar dunia Islam, Liga Arab utamanya agar segera bisa memberikan langkah konkrit mengatasi penjajahan ini. menghentikan hubungn diplomatis dengan Israel, mengirim Pasukan untuk membatu pejuang Palestina, mengEmbargo Minyak
4. Mendoakan agar PBB dan Bangsa Bangsa di dunia semakin terbuka matanya dengan Penjajahan tak bermoral ini

Dan Lain Lain
Berbagai hal lain yang dapat kita perbuat untuk palestina.
1. Terus menerus menyebarkan isu dan kebencian akan agresi ini, baik kepada orang dekat maupun orang jauh bahkan orang kafir di sekitar kita. Ini adalah masalah moral! Kita buat agar orang orang di sekitar kita semakin peduli dengan penderitaan palestina.
2. Update terus Informasi tentang penjajahan Israel di Palestina
3. Internet mania:
Bagi para Blogger: Sebarkan isu Palestina di Blog kita,
Friendster : Di Buletin Board nya Frienster, dan comment comment ==> begitu juga dengan Facebook atau site sejenis lain
Kaskus : Sebarkan di Forum forum sejenis juga
Milis : Post artikel dan seruan seruan semangat Palestine ke mlis2 yang kita ikuti

Israel Ingin Menghapus Negara Palestina

Dunia tak hanya diam menyaksikan kebiadaban Israel di bumi Gaza, Palestina; kita semua akan melihat bahwa Israel pada akhirnya hanya tengah menyulut api untuk membakar dirinya sendiri.
Pagi ini, pagi esok, dan setiap pagi, anak-anak muda di Jalur Gaza akan lebih kuat dan berani untuk melawan penjajahan di atas tanah mereka, walau hanya dengan batu, atau apalagi dengan roket.
Para dedengkot Israel mati-matian meyakinkan diri mereka sendiri bahwa semakin keras mereka menghajar Palestina, maka akan semakin lemah lah rakyat Palestina. Namun mereka tidak menyadari, ketika semuanya usai, kebencian terhadap Israel semakin muntab, dan sejarah lama yang sudah berjalan akan terus menunggu mereka, tanpa direncanakan.
Jalur Gaza lebih kecil daripada Pulau Wight—sebuah pulau kecil yang terletak di laut selatan Inggris—tapi Gaza menampung 1.5 juta orang yang tak pernah bisa pindah dari sana. Mereka tumpang-tindih di sana, kelaparan, tanpa ada pekerjaan, dikelilingi tembok dan menara. Dari lantai atas menara mereka, kita akan bisa melihat perbatasan Gaza, Mediterania, dan kabel listrik Israel yang dipasang dengan keji. Jika bom meledak di Gaza, sudah dipastikan, tak ada tempat yang bisa digunakan untuk berlindung dan bersembunyi.
Sekarang, tengah terjadi perang di sana. Pemerintahan Israel berkata, “Kami mundur dari Gaza pada tahun 2005, dan yang kami dapatkan adalah roket Qassam dan Hamas menghujani kota kami. 16 orang mati. Berapa banyak lagi kami harus berkorban?” Ini adalah sebuah narasi yang sangat naif, dan banyak pula menyimpan celah. Jika kita ingin memahami realitas dan menghentikan serbuah roket, kita perlu meloncat ke beberapa tahun di belakang dan melihat apa penyebab semua itu.
Betul, pemerintahan Israel memang mundur dari Jalur Gaza tahun 2005—agar bisa lebih intensif mengontrol Tepi Barat. Dov Weisglass, penasihat senior Ariel Sharon, mengeluarkan pernyataan ambigu akan hal ini. “Penarikan dari Gaza hanya sementara. Penarikan ini akan menjadi indikasi bahwa tidak akan ada proses politik dengan Palestina. Negara Palestina sudah kami coret dari agenda kami.”
Sejak kali pertama mendengar pernyataan ini, warga sipil Palestina sudah diliputi perasaan was-was, dan karena ditambah kelakuan buruk pemimpin Fatah yang korup, mereka pun akhirnya memilih Hamas. Itu adalah pemilu yang bebas dan demokratis,dan polling yang dilalukan oleh Universitas Maryland, mengatakan bahwa 72% warga Palestina menginginkan solusi untuk kedua pihak, dan hanya kurang dari 20% saja yang tidak sudi berbagi tanah Palestina dengan Yahudi. Dan dengan segala tekanan tersebut, Hamas sudah sangat bersabar terhadap Israel dan menawarkan gencatan senjata, dan akan membiarkan Israel jika saja Yahudi-Yahudi itu mau kembali lagi ke daerah perbatasannya.
Alih-alih menerima tawaran Hamas yang simpatik tersebut, Israel malah bereaksi dengan menurunkan tangan keji pada segenap penduduk sipil Palestina. Israel menutup semua akses ke Gaza. Penduduk Gaza hidup dengan sedikit makanan, bensin, dan obat-obatan, tapi sama sekali tak cukup untuk bertahan hidup. Weisglass menyebutnya sebagai “Gaza sedang berdiet.” Menurut Oxfam, sebuah LSM yang bekerja di bidang pengentasan kemiskinan dan memerangi ketidakadilan di tiga benua di dunia, selama satu bulan terakhir ini hanya 137 truk pengangkut makanan yang boleh memasuki Gaza. Untuk jumlah 1.5 juta orang, suplai makanan tersebut jauh dari cukup. PBB mengatakan bahwa kemiskinan mencapai level luar biasa tak terkirakan. Orang yang datang ke rumah sakit langsung ditolak oleh pihak rumah sakit, karena antara rumah sakit dan rumah tinggal sudah tidak ada beda fungsinya. Di jalanan, anak-anak kecil bertebaran kelaparan.
Agresi terhadap Gaza telah melahirkan sesuatu yang amoral. Hamas mulai menembakan roket al-Qossam dan “hanya” menewaskan 16 orang Israel, bandingkan dengan Israel yang sudah melenyapkan lebih dari 500 jiwa hanya dalam waktu seminggu. AS dan Negara-negara Barat menapikan hal ini. Mereka mengatakan bahwa sangat tidak mungkin bernegosiasi dengan Israel sementara Negara Yahudi itu tengah menembakan roket, tapi mereka meminta rakyat Palestina untuk diam saja, untuk melakukan kompromi politik.
Israel sudah menolak gencatan senjata dan proses diplomatik dengan Hamas. Mengapa? Ini karena Israel ingin menghapus Palestina. Seorang penulis Yahudi mengatakan, “Jika kita menginginkan perdamaian sekarang, masalahnya bukan pada Hamas. Tapi pada Israel sendiri.”

dari eramuslim.com

Obama Jadi Presiden, so what gitu loh!

Pemilu Presiden Amerika kemaren sangat heboh dan menyita perhatian berbagai media di Indonesia.
Apalagi kemenangan Obama yang ditunggu oleh mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia, bahkan mungkin sebagian besar diantaranya para muslim. dan tidak sedikit diantara mereka yang merasa senang dan berharap banyak dari kemenangan Obama kali ini.

Obama yang pernah tinggal di Indonesia itu beberapa alasan yang terus diagung agungkan dan dianggap akan menguntungkan Indonesia. Memangnya apa yang bisa dilakukan negara penuh hutang dan dilanda krisis seperti Amerika terhadap Indonesia...!?

Ataukah Obama yang dinggap beragama Islam dan memiliki nama tengah "ala timur tengah" menjadi alasan bagi kita untuk menganggap bahwa Obama adalah harapan baru bagi Amerika. Amerika yang care dengan dunia Islam! Weleh weleh...!

Apakah Kemenangan Obama cukup untuk melupakan luka terhadap apa yang Amerika lakukan terhadap saudara saudara kita di Palestina, Irak, Afganistan dan MIlyaran warga muslim di dunia!
Penganiyaan, Fitnah, kecaman, tekanan, pelecehan, penindasan, penjajahan, mungkin semua kata yang jelek pernak Amerika lakukan terhadap orang Islam di seluruh dunia. Ingatlah teman.... Ingatalah apa yang telah mereka lakukan pada saudara saudara kita disana, atau mungkin terhadap kita juga (bagi yang ngrasa)

Menurut beberapa tulisan EraMuslim.com seperti:

Barak Obama, "Saya Akan Melakukan Apapun untuk Israel" (Kamis, 17 Apr 2008 )
Tim Sukses Obama Tegaskan Bahwa Obama Bukan Muslim (Rabu, 27 Peb 2008 )
Barack Obama Luncurkan Situs, Bantah Tuduhan Pernah Jadi Muslim (Jumat, 13 Jun 2008 )
Kunjungan Obama Cuma Perpanjang Penjajahan AS di Irak (Selasa, 22 Jul 2008 )

seharusnya membuat kita berfikir..... walaupun tidak ada jaminan terhadap apa yang tertulis di EraMuslim.com 100% benar... tetapi setidaknya membuat kita lebih berfikir dan atisipasi terhadap apa yang sebenarnya terjadi.

Tentunya kita sama sama setuju bahwa Amerika dan segala keputusan politiknya sangat dipengaruhi oleh Yahudi. Betapa banyak bukti yang menunjukkan hal itu. Mulai dari dukungan luar biasa terhadap Israel sampai jutaan sikap dan kebijakan yang sangat memojokkan Islam.... juga berbagai kenyataan kenyataan lain yang menjadi bukti besar bahwa Amerika sangat terpengaruh oleh Yahudi.

Tapi coba renunggkan, jika memang Obama memiliki harapan yang sangat baik untuk Islam, dan dia akan merubah kebijakan amerika yang memojokkan Islam....... Mungkinkah Yahudi yang sudah berakar di politik dan kekuasaan Amerika secara multi dimensi selama berpuluh2 tahun tidak dapat berbuat apa apa sehingga Obama bisa menang telak terhadap Mc Cain?????

Coba renungkan Saudaraku.....
Powered by Blogger.

Mutiara Hikmah

Yang Sedang Banyak Dibaca

Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Sahabat Bloggerku

Komentar Komentar Terbaru

International opportunities

Eramuslim

Web hosting for webmasters