Sebagian besar orang akan merasa berat ketika tau bahwa kami di asrama (seharusnya) diwajibkan utuk selalu menaati beberapa peraturan yang sebenarnya juga tidak sedikit. Saya katakan seharusnya karena ternyata pada pelaksanaanya tidak seideal itu. Kegiatan asrama tiap bada subuh, kajian tiap bada Isya dari Senin sampai Kamis, kegiatan olahraga di tiap Ahad pagi, ditambah lagi hafalan surat yang harus disetor ke ustad beberapa periode sekali, tugas artikel yang harus ditulis dan dikumpulkan tiap bulan, belum lagi tugas yang berkaitan dengan materi kajian di Asrama yang diberikan oleh asatid. Dan ternyata tidak hanya itu. Oh tidak hanya itu, ustad sering bilang, Asrma kami ini bercita cita menciptakan "Special Forces", special forces dalam dakwah dan tentunya dalam perjuangan bangsa ini. Bagaimana tidak, selain harus mengikuti berbagai kegiatan asrama yang sangat padat, kami juga harus berprestasi di Kampus yang dibuktikan dengan IP yang selalu baik (3,00), juga di saat yang bersamaan kami diharuskan aktif di organisasi sebagai wujud aktualisasi diri dan kontribusi kepada masyarakat sekitar, di saat yang sama pula kami didorong untuk mengikuti berbagai kompetisi dan lomba agar kami bisa menjadi santri berprestasi. Namun, di saat yang sama pula kami pasti punya tanggungjawab kepada orang tua kami masing masing yang harus dipenuhi, Kami juga punya amanah di lembaga tempat kami berkontribusi,dan tentunya kami juga memiliki cita cita dan ambisi pribadi yang harus kami capai.
Namun, Yang namanya sistem buatan manusia pasti ada kurangnya, ada celahnya. Begitu juga dengan asrama kami, walaupun para pembina, asatid dan pengurus asrama selalu Memperjuangkan kedisiplinan kami, kedisiplinan yang tentunya agar program, target dan tujuan asrama dapat berjalan dengan baik, dan tentunga agar kami dapat menjadi special forces, tetapi kenyataanya tidak se mulus itu. Banyak diantara kami yang ternyata bisa saja mengambil celah atau menggunakan berbagai alasan (atau kadang tidak beralasan) untuk meninggalkan kedisiplinan itu. Meskipun di awal kita sudah membuat kesepakatan, ya meskipun kita sudah berjanji akan menyepakatinya, ya meskipun setiap apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban, ya meskipun janji adalah hutang. Ya ternyata dunia tidak se-Ideal itu, bahkan di komunitas yang mengaku memiliki idealisme tinggi seperti di asrama kami.
Meskipun demikian, satu hal yang pasti, sebagian besar dari kami adalah orang yang sibuk dan berprestasi baik di kamus ataupun ormas dan LSM atau mungkin lembaga yang lain. Ada diantara kami yang selalu cumlaude, ada diantara kami yang memiliki jabatan tertinggi di lembaga tempat kamiberkontribusi, ada diantara kami yang menjadi inisiator berbagai gagasan baru pergerakan mahasiswa, ada diantara kami yang memenangkan berbagai event dan perlombaan skala nasional, ada diantara kami yang mewakili UGM dalam beberapa undangan Internasional, ada diantara kami yang mampu membagi waktu sehingga mampu menjadi mahasiswa di 2 PTN terbaik di Kota Pelajar, ada diantara kami telah menulis buku (novel, kumpulan cerpen, dll) yang akan atau telah diterbitkan oleh salah satu penerbit, ada diantara kami yang sering menjadi pemateri atau motivator di berbagai event bahkan di luar Jogja, ada diantara kami yang sudah memiliki penghasilan sendiri karena bisnis yang kami rintis, ada diantara kami yang sudah disibukkan dengan beberapa proyek dari dosen atau berbagai institusi, ya itulah kami calon special forces.
Walau kami jarang ikut kajian, walau kami sering mengucap kata afwan bila ada agenda asrama, walau kami susah mengangkat kepala di kajian bada subuh, walau kami sering tidak mendengar suara adzan dari masjid yang hanya beberapa jengkal dari kamar kami di waktu subuh, walau kami sangat tidak peduli dengan kebersihan asrama, walau kami begitu jelek dalam hal kedisiplinan, tapi kami yakin kami mampu menjadi special forces!
Laporan Akhir Aplikasi Komputer Dalam Sistem Tenaga Listrik
Otomatisasi Penggunaan Daya Listrik di Jurusan Teknik Elektro
Berbasis Delphi
“PROGRAM MANAJEMEN ENERGI JTE FT UGM”
Untuk Men-Download Laporan Klik Disini
Berbasis Delphi
“PROGRAM MANAJEMEN ENERGI JTE FT UGM”
Untuk Men-Download Laporan Klik Disini
Naskah Piagam Jakarta
Bahwa sesungguhnja kemerdekaan itu jalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perdjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai (lah) kepada saat jang berbahagia dengan selamat-sentausa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indnesia, jang berkedaulatan rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja, menurut dasar kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.
Djakarta, 22 Juni 1945
Ir. Soekarno
Mohammad Hatta
A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Achmad Subardjo
Wachid Hasjim
Muhammad Yamin
Dan perdjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai (lah) kepada saat jang berbahagia dengan selamat-sentausa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indnesia, jang berkedaulatan rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja, menurut dasar kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia.
Djakarta, 22 Juni 1945
Ir. Soekarno
Mohammad Hatta
A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Achmad Subardjo
Wachid Hasjim
Muhammad Yamin
Utang Indonesia Pada Ummat Islam
Oleh Herry Nurdi Penulis, Wartawan Islam
Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.
Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.
Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.
Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.
Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).
Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.
Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat Bismillahirrahmanirrahim dan ditutup dengan Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!
Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.
Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?
Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.
Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.
Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.
Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam. Wallahu a’lam .( dikutip dari republika 28/08/2009)
Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.
Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.
Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.
Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.
Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).
Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.
Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat Bismillahirrahmanirrahim dan ditutup dengan Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!
Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.
Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?
Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.
Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.
Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.
Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam. Wallahu a’lam .( dikutip dari republika 28/08/2009)
Rem Motor Hilang
Helm hilang, saya rasa itu biasa, tapi rem motor hilang saya rasa itu hal yang langka.
Tapi hal ini beberapa bulan yang lalu terjadi pada motor saya. Pada suatu malam, seperti biasa ketika saya ingin internetan dengan puas saya menginap di ruang workshop KMTE (Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro). Karena belom pernah saya rasakan koneksi internet yang lebih cepat dari KMTE ketika malam hari.
Karena menginap di KMTE adalah hal yang biasa dan selalu banyak temannya, maka saya santai saja ketika melakukannya. Saya memarkir motor seperti biasa dan tentu tidak memikirkan apa apa. Di Workshop saya juga ngenet dengan santainya, mendownload beberapa file yang saya butuhkan tanpa berfikir yang aneh aneh.
Subuh di keesokan harinya ketika saya terbangun dan masih terasa kantuk yang berat karena habis begadang untuk ngenet, saya pulang tanpa memperhatikan kondisi rem motor saya. Namun ketika di kost saya baru sadar. Bahwa rem motor ku hilang.
Terus hikmahnya apa, berat juga bila ditanya hikmah dari cerita ini. Bila Helm hilang ya hikmahnya lain kali helm dititipkan atau dibawa masuk ke ruangan. Bila motor hilang lain kali motor di kunci ganda. Bila rem hilang, any suggest? =)
Islam dan Partai islam
Ini adalah taun pertama aku mengikuti pemilu. Tidak seperti sebagian besar pemuda yang kurnag peduli dengan dunia Politik, aku adalah tipe orang yang sangat peduli padanya. Sejak jaman pemilu pasca reformasi 1999 disaat umurku masih baru menginjak belasan aku sudah memikirkan parpol dan perjuangannya di Indonesia.
Walau bapakku hanyalah guru yang jauh dari kehidupan politik, namun dia adalah orang yang sangat peduli dengan sosial kemasyarakatan, termasuk politik. Tidak jarang aku mendiskusikan berbagai parmasalahan sosial kemasyarakatan dengannya. Tidak jarang pula aku berbeda pendapat dengannya. Tapi hal itu kami sikapi dengan nyaman, perbedaan itu tidak membuat kami emosi atau bermasalah tapi justru membuat kami semakin paham dan percaya satu sama lain.
Mulai masalah poligami sampai politik, sejarah sampai fatwa MUI bisa kita diskusikan sampai kita lupa waktu. Aku jadi ingat ketika aku dan bapakku mendiskusikan pernikahan Syekh Puji dan Ulfa, saat itu aku menganggap Media salah besar ketika memojokkan pak Puji, karena itu melanggar privasi dan HAM. Apalagi tidak ada pihak yang dirugikan disana, semua sama sama suka. Namun bapakku yang mengnggap apa yang dilakukan pak Puji melanggar kewajiban dalam berbangsa dan bernegara, karena manikah adalah salah satu hal yang sudah diatur oleh pemerintah dan kita harus mengikutinya. =)
Begitu juga ketika pemilu ini. Kami sempat diskusi panjang membahas parpol lewat telepon. Kebetulan dalam pemilu kemaren kami mendukung partai yang berbeda. Bapak mendukung PAN ==>Sebuah partai kumpulan orang orang sholeh (karena dimotori oleh orang orang Muhammadiyah) namun merupakan partai Nasional ==> karena ingin diterima banyak kalangan (begitu katanya. Sedangakn aku mendukung PKS, wajar karena kehidupan kampus membuat aku sering bersentuhan dengan aktifis aktifis kampus. PKS sebagai organisasi yang dimotori oleh Aktifis Dakwah Kampus berusaha menjadi partai yang bersih, peduli dan profesional. Sedangkan Ibukku mendukung PBB, karena beliau dilahirkan di keluarga Masyumi, sebuah partai Islam yang menurutku partai yang benar benar Islam. Bahkan (dahulu) Masyumi berani memperjuangkan Islam sebagai dasar dari bangsa ini (bukan pancasila), akhirnya sampai di black list dari pemerintahan. Bila kita tengok jaman sekarang tidak ada lagi partai Islam (termasuk PKS yang aku dukung) memperjuangkan Islam sampai demikian.
Tapi kerennya, tanpa rekayasa pada pilpres kemaren kami sekeluarga mendukung pasangan Capres yang sama. Walau kalah, at least kami sudah berusaha berikan yang terbaik untuk bangsa dan agama ini. Melalui usaha kami, melalui suara kami.
Lebih Cepat Lebih Baik
Ingin Menangis
Beberapa waktu yang lalu sempat aku nge-Post status di facebook yang isinya kurang lebih "aku ingin nangis" tak kusangka banyak bgt teman dan saudara yang memberikan komentar atas statusku itu. Ada yang bilang kalo nagis tu ga menyelesaikan masalah, ada pula yang bilang nangis itu sehat.
Cowok kok nangis..... berbagai media sering menyudutkan cowok yang nangis. Ga gentle ato ga keren -- tapi aku kok nyaman ya nangis. Nangis menjadi sesuatu yang aku nanti, karena sebenarnya ga gampang juga membuatku nangis.Kebanyakan hal yang membuat aku nangis adalah ketika aku nonton, dengar atau baca cerita yang inspiring. Penuh hikmah dan perjuangan, justru bukan cerita yang menyedihkan. Salah satu cerita yang dapat membuatku menangis adalah One liter of tear, sebuah drama jepang yang menurutku very inspiring. Tapi yang membuatku menangis bukan kesedihan dan penderitaan yang dialami Ikeuchi Aya (tokoh utama). Namun ketegaranya, hikmahnya serta rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadaku yang sering aku lalaikan (KESEHATAN).
Begitu juga ketika aku nonton dan baca Laskar Pelangi terus aku menangis. Hal yang lebih membuatku menangis bukan kematian ayah lintang atau pak Harfan, tapi lebih ke perjuangan mereka. Memang sih kematian mereka menjadi "katalis" dalam proses munculnya air mata di mataku, namun yang lebih utama adalah keIstiqomahan guru SD Muhammadiyah dan perjuangan Lintang dkk.
Terkadang menangis aku jadikan tolak ukur kualitas film atau cerita yang aku tonton, berapa kali film itu membuatku menangis, semakin banyak berarti film itu semakin keren. Hal ini juga terkadang aku gunakan untuk mempromosikan sebuah film ke temanku, misalnya ketika aku mempromosikan Dragon Sakura ke teman teman, aku sebutkan berapa kali aku nangis ketika menontonya -- karena jumlah nangis equal dengan relative kualitas film itu.
Menangis membuatku merasa menjadi lebih manusiawi. Di kampus aku dididik untuk bisa menyelesakian permasalahan Engineering atau mendesain hardware atau sistem se baik mungkin, menghitung persamaan atau bahkan memberikan solusi dari permasalahan Engineering di Masyarakat. Trus apa bedanya aku dengan robot, robot juga diciptakan untuk dapat menyelesaian hal hal itu (namun tentu dengan ketidaksempurnaannya). Sehingga ketika aku menangis aku merasa menjadi lebih manusia, tidak hanya manusia yang menyelesaikan permasalahan Engineering namun juga manusia yang memiliki hati. Ini juga alasan mengapa aku senang bercanda dengan teman teman atau ngurus organisasi. Karena kegiatan itu meningkatkan jiwa sosialku, yang semakin "memanusiakan" aku.
Makanya tidak jarang aku nge-"hunt" berbagai J-Dorama yang tidak jarang membuatku menangis ketika menontonya. Untungnya ada komputer di Jurusan yang adminnya rajin update J-Dorama di-share pula jadi kebutuhan itu semakin terpenuhi. Jika pingin tinggal browse terus copy. Tapi tidak sedikit pula J Dorama yang kisahnya hanya cerita2 cinta tanpa hikmah yang inspiring. Temen temen juga tidak sedikit yang gemar nonton J-Dorama jadi mereka juga merupakan referensi bagiku. hehehe
Menangis yang paling keren adalah ketika kita menangis karena takut akan dosa dan azab Allah. Aku ingat dahulu aku pernah menangis karena takut akan dosa, tapi kenapa sekarang tidak lagi. Ketika ingat akan dosa, membuatku tidak menangi juga di sholat malamku. Aku iri degan orang orang yang bisa menangis karena takut akan azab Allah. Apakah ini berarti Imanku begitu tipisnya sehingga kisah One Liter Of Tear lebih membuatku menangis dari pada dosa yang telah aku perbuat
Astaghfirullah....
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.
Mutiara Hikmah
Yang Sedang Banyak Dibaca
-
foto dari republika.co.id Kita tidak akan bahagia karena keinginan kita, namun kita bahagia karena rasa syukur kita (Aa Gym) Dulu di...
-
Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi Bagian 2 Suatu ketika kami sekontrakan memberikan sebungkus kue yang dibeli di pinggir jalan kepada te...
-
Ngeri membayangkan penderitaan saudara saudara kita di palestina. Perjuangan mereka mempertahankan tanah para Nabi ini nampaknya sangat ber...
-
Curhat tukang listrik bagian 2 " Sedikit menjelaskan tentang biaya pasang baru listrik " Di suatu siang di salah satu k...
-
Opini pribadi tentang istilah "Galau" Kegalauan yang dirasakan seseorang bisa jadi menunjukkan seseorang sedang berfikir, bisa...