Minggu cerah dan sympathetic trip




Semenjak berkerja sebagai penjaga listrik tetep menyala di salah satu wilayah di kabupaten Karawang, hari hari ku gak jauh dari berjuang menjaga listrik tetep nyala dan berusaha secepat mungkin menyalakan listrik yang padam akibat gangguan. 

Sekedar mengingatkan saja, PLN tempat saya bekerja adalah perusahaan penjual listrik. Jadi kami sangat berharap listrik tetep menyala agar kita bisa terus jualan listrik. Selain tidak bisa jualan listrik, padamnya listrik juga menimbulkan kerugian non finansial yang tidak sedikit. Berikut salah satu cerita perjuangan menyalakan listrik yang belum lama aku alami.

Ahad pagi yang cerah, seharusnya waktu yang nyaman untuk bersantai atau berlibur. Namun tidak dengan tanggal 8 Maret 2015, pukul 07.02 pagi itu secara mengejutkan kami mendapat berita “indah” dari dispatcher bahwa 3 penyulang (feeder) trip bersamaan, antara lain Neptunus, Sagitarius, dan Merkurius. (Kebetulan kami disini memberi nama penyulang dengan nama bintang atau benda benda di luar angkasa)
2 SKTM dan 1 SUTM, dan ketiga penyulang tersebut memasok pelanggan potensial. Hilangnya pasokan di pelanggan potensial tentu sangat merugikan PLN. Selain besarnya ENS (Energy Not Sales), hal ini juga sangat berdampak pada kepuasan pelanggan PLN dan berkurangnya citra PLN. Kalau kita coba membaca lebih luas lagi, padamnya pelanggan potensial akan sangat berpengaruh pada perekonomian, karyawan tidak bekerja, barang gagal produksi, kerusakan peralatan, dan masih banyak lagi.

Sekitar pukul 8 pagi maintenance salah satu telanggan industri yang dipasok Penyulang Neptunus, menelepon kami, dan menginformasikan bahwa kubikel dilokasinya meledak. Kemudian Tidak lama setelah itu petugas dinas gangguan menginformasikan bahwa ada info ledakan di gardu sakah satu gardu yang dipasok penyulang Sagitarius. Alhamdulillah, 2 penyulang dapat dinormalkan.

Tinggal 1 Penyulang lagi yang belum normal. Penyulang Merkurius adalah SKTM, gangguan GFR pada SKTM kemungkinan besar adalah gangguan pada joint kabel yang tahanan isolasinya tembus. Karena Pn Merkurius memasok 8 Gardu, maka pengusutannya cukup memakan waktu. Namun Alhamdulillah semua dapat normal jam  16.00. 

Kejadian ini biasa disebut Simpatetik trip. Simpatetik trip terjadi di penyulang dalam satu trafo GI, dengan salah satu gangguan GF (Ground Fault), umumnya terjadi karena kenaikan tegangan pada fasa yang sehat. Pada saat terjadi gangguan satu fasa ke tanah (GF), tegangan fasa yang sehat akan naik sebesar  √3 kali tegangan normal. Dengan kenaikan tegangan tersebut, maka peralatan jaringan dengan tahanan isolasi yang sudah mulai menurun akan terjadi flash over dan mengakibatkan gangguan.

Akad Nikah: Menyempurnakan Setengah Agama

"Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah menyempurnakan setengah dari agamanya maka takutlah kepada Allah terhadap setengahnya yang lainnya.” (HR At-Thabrani)"

Menikah menyempurnakan setengah agama, ternyata menikah membawa tanggung jawab yang begitu besar. Tanggungjawab yang tidak dimiliki oleh orang yang belum menikah. Apabila seorang lelaki belum menikah, maka dirinya tidak punya tanggungjawab atas wanita, namun setelah menikah dirinya memiliki tanggungjawab atas wanita yang baru dinikahinya, dunia akherat. Selain itu lelaki yang setelah menikah juga memiliki tanggungjawab atas keluarga sang wanita, tidak cukup hanya dengan keluarganya saja.

Seseorang setelah menikah akan dihadapkan pada proses ujian adaptasi yang tidak sedikit, mulai mengubah kebiasaan hidup, mengubah cara pandang, sedikit demi sedikit akan sejalan dengan pasangan dan keluarga besarnya. Memutuskan menikah berarti memutuskan bersama, dan ini berarti perlu komitmen agar bisa bersama. Latar belakang yang berbeda tentu membuat tidak semua hal dapat bersama, disana ujiannya, setelah menikah menyamakan pemikiran, persepsi, keputusan pribadi menjadi bersama.

Alhamdulillah sah

14 Desember 2013, alhamdulillah saya sudah resmi menikah dengan Karina Rosdiana, Akad nikah dan Resepsi dilaksanakan di Gedung Pindang,

Berikut foto foto Akad nikah dan Resepsinya.

Cuman Harta, Tahta, dan Wanita

Bukan cuman di berita dan sinetron, dalam kehidupan ini rasanya topik pembicaraan gak jauh dari tiga hal tersebut.

Barusan ada teman yang curhat bagaimana menghadapi perempuan yang sedang mengabaikannya, sudah berbagai cara dia gunakan untuk mendapatkan kembali perhatian pujaan hatinya tersebut. Kemarin temanku yang lain curhat soal pacarnya yang ingin dinikahinya, walau sepertinya pacarnya itu mau untuk dinikahi namun belum nampak langkah serius untuk melangkah kesana. Beberapa pekan yang lalu, seorang kawan lama curhat ingin segera nikah namun belum ada calon, walau menurutku hanya dianya yang banyak mengabaikan perempuan di sekitarnya. Di saat yang hampir bersamaan kawan yang lain cerita kalau ingin segera nikah namun orang tua belum merestui, nampaknya karena orang tuanya ingin dia dapat hidup lebih mapan, padahal kawanku yang satu ini sudah bekerja dengan pendapatan bulanan yang lumayan. Belum lama ini salah satu teman baikku cerita bahwa dia sedang menyiapkan mental karena dalam waktu dekat akan menemui seorang wanita untuk kenalan serius (bahasa sholehnya taaruf coy), dan Alhamdulillah menurut kabar yang aku terima prosesnya lancar.

Diberi Tanggung Jawab Itu Berat.

Waktu SMA, walau sudah banyak hal yang mulai dilakukan dengan mandiri, namun masih bisa kapan saja minta bantuan ke orang tua. Kalau ada apa apa, orang tua masih bisa turun tangan bahkan bertanggungjawab atas diri kita. Makanya raport SMA masih diberikan ke orang tua murid.

Tidak seperti Kuliah, selama kuliah orang tua tidak diwajibkan, bahkan tidak ada undangan untuk mengambil transkrip semester mahasiswa. Karena mahasiswa sudah dianggap lebih dewasa dari siswa SMA. Mahasiswa sudah dianggap dapat bertanggungjawab atas studinya. Selain itu, seorang mahasiswa kost, dia juga mulai diberi bertanggung jawab atas kehidupannya. Walau tiap bulan orangtua masih mengirim uang, namun harus mulai bisa mengatur sendiri kehidupannya. Tidak tinggal dengan orang tua berarti bebas melakukan apa saja, diberi kepercayaan berarti diberi tanggung jawab, tangguang jawab atas kehidupan pribadinya. Kalau ada masalah, harus mulai bisa menyelesaikannya sendiri.

Ketika sang mahasiswa sudah lulus dan bekerja di suatu instansi setidaknya ada dua tanggungjawab baru yang diemban. Pertama tanggung jawab sebagai sarjana, kedua tanggung jawab atas job description di instansi tempatnya bekerja. Memegang gelar sarjana membuat masyarakat sekitar berharap kita dapat melakukan lebih dari yang belum bergelar sarjana, dan ini tidak mudah, cukup berat. Bertanggung jawab atas job description di instansi kita bekerja berarti kita dituntut profesional, sudah mendapat gaji berarti kita harus disiplin, mengerjakan tugas dengan baik, menaati peraturan, karena apa yang kita kerjakan tidak lagi hanya berimbas pada diri kita, namun juga masyarakat yang labih luas, minimal instansi kita dan stakeholder-nya, dan sekali lagi, hal ini berat.

Semakin Tua Semakin Misterius.


Saya kira sudah banyak orang yang mengamati kaitan antara kesuksesan seseorang yang kasat mata dan kemampuan intelegensinya. Ya memang, sudah banyak orang yang mengamini bahwa kecerdasan emosional itu lebih penting untuk kehidupan di dunia nyata dibanding kecerdasan intelegensia. Tapi, kali ini saya tidak ingin membahas bagaimana proporsi kedua kecerdasan tersebut berkontribusi dalam kesuksesan hidup seseorang.

Saya mengamati, setelah lulus SD, banyak di antara siswa-siswinya yang memang terlihat unggul secara akademis bisa lanjut sekolah di SMP favorit. Begitu juga ketika lulus SMP, banyak di antara siswa-siswinya yang memang terlihat unggul secara akademis bisa lanjut sekolah di SMA favorit. Tapi, di sini mulai terlihat anomali. Ada beberapa siswa/i yang terlihat biasa-biasa saja secara akademis bisa diterima di SMA favorit. Padahal teman-teman SMP-nya yang terlihat lebih encer malah tidak diterima di SMA tersebut. Kemudian, anomali ini makin menggejala ketika siswa-siswi SMA ini lulus dan kuliah di perguruan tinggi. Siswa/i yang terlihat tidak menonjol kemampuan akademisnya malah diterima kuliah di perguruan tinggi favorit. Jurusan favorit pula. Gejala anomali ini makin kronis ketika mahasiswa/i ini lulus dari perkuliahannya. Beberapa mahasiswa/i yang dulu ketika kuliah terlihat tidak terlalu rajin belajar atau kemampuan akademisnya tidak menonjol malah lebih cepat diterima kerja di perusahaan favorit. Beberapa mahasiswa/i yang dulu sering kali nongkrong di lab; nilai A sering kali menghiasi kartu hasil studinya tiap semester; malah masih harus pontang panting ke sana kemari untuk ikut tes perusahaan ini-itu;  ikut job fair sana-sini. Bahkan anomali ini bisa sampai stadium akhir ketika sudah bicara tentang pasangan. Sudah berapa kali kita mendengar "Wah, suaminya kok biasa aja ya? Gak imbang tuh. Jadi teringat Beauty and The Beast, wkwkwk" atau "Hmm... beruntung ya dia dapat suami yang ganteng, soleh pula. Padahal dia sih biasa-biasa aja."?

Keseimbangan dan Kegalauan dalam film Habibie Ainun

Coretan sederhana dari film/novel Habibie Ainun
Secara umum dunia ini diciptakan Allah dengan penuh keseimbangan. Namun manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk membuatnya tidak seimbang, disinilah ujiannya. Ketika terjadi ketidakseimbangan maka yang muncul adalah gejolak. Contoh simple adalah akibat manusia membuang sampah yang tidak pada tempatnya, air yang awalnya penuh keseimbangan menjadi musibah. Air yang seimbang mendatangkan manfaat, namun karena keseimbangannya dirusak maka muculah gejolak, yang berupa banjir.
Dalam kehidupan manusia pun juga harus demikian, ketika manusia tidak seimbang dalam hidupnya maka yang datang adalah gejolak, yang popular sekarang dengan istilah “galau”. Contoh yang menarik adalah yang dapat kita lihat dalam kisah hidup Pak Habibie dan Bu Ainun dalam film/novel Habibie Ainun. Menurut saya pak Habibie adalah contoh sangat luarbiasa dalam hal keseimbangan.
Di masa mudanya, pak Habibie walau memiliki segudang prestasi di Jerman, namun merasa kehidupannya kurang seimbang. Walaupun berprestasi namun beliau merasa ada yang kurang dalam hidupnya yakni pendamping hidup. Dikisahkan, ketika pulang ke Indonesia beliau juga menyempatkan mencari pendamping hidup. Kemudian beliau melamar bu Ainun dan membawanya ke Jerman untuk memberikan keseimbangan dalam kehidupannya di Jerman.
Bu Ainun memiliki latar belakang sebagai dokter, namun di Jerman beliau tidak melaksanakan aktifitas sebagai dokter. Bu Ainun dan Pak Habibi, walaupun mereka sudah hidup berkecukupan, punya buah hati yang lucu lucu namun pada saat itu Bu Ainun masih muncul kegalauan. Ada yang kurang dalam hidupnya, yaitu berkarya dengan ilmu dan kompetensi yang dimilikinya, menjadi dokter. Sehingga, dengan harapan dapat membuat kehidupan yang lebih seimbang bu Ainun menjadi dokter di Jerman.

TDL Naik Lagi


Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sudah diketok, DPR dan Pemerintah sudah sama sama sepakat dengan TDL yang baru. Telah disepakati tahun 2013 ini TDL naik 15 % dan dinaikkan secara bertahap per triwulan. Sebagai tukang listrik negara sebenarnya kenaikan  TDL ini tidak ngaruh dengan rutinitas saya. PLN sebagai perusahaan yang mengelola listrik di Indonesia tidak terlalu terasa efek dari kenaikan TDL ini. Kalaupun TDL tidak naik, kemudian selisih Biaya Pokok Penyediaan (BPP) dan TDL terlalu tinggi, toh akan ditutupi oleh subsidi. Subsidi listrik adalah konsekuensi dari TDL yang ditentukan oleh Pemerintah. Karena ini adalah amanat konstitusi, dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 disebutkan : bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Walau tidak disebutkan secara langsung, namun listrik dibangkitkan dari "bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya", sehingga Listrik harus dikuasai negara, diatur oleh negara.

Namun demikian, kadang saya merasa sakit hati ketika ada yang menyatakan listrik yang dijual PLN ini harganya mahal. PLN, dan rata rata perusahaan listrik di dunia ini menjual energi listrik per kWh atau kilo watt hour. 1 kwh itu energi yang cukup besar, karena 1 kWh itu cukup untuk menyalakan TV selama lebih dari 5 jam, bayangkan hiburan yang bisa didapatkan. 1 kWh itu juga cukup untuk menyalakan setrika selama lebih dari 3 jam, bayangkan berapa banyak baju yang bisa rapi karenanya. 1 kwh itu cukup untuk menyalakan lampu hemat energi untuk menerangi kamar, selama lebih dari 40 jam.

Urip kui Sawang Sinawang

Fase fase awal kehidupan pasca kampus seperti ini memang kecenderungannya memunculkan kegalauan. Saya katakan kecenderungan karena banyak yang merasakan seperti saya, pun juga orang orang disekitar saya.

Bila saya amati teman teman kampus, Setelah lulus dengan predikat yang memuaskan, atau mungkin lebih kemudian dapat bekerja di instansi yang dulu diimpikan, nampaknya bukan jaminan akan nyaman atau cocok dengan pilihannya itu. Terlebih beberapa teman yang kurang beruntung sehingga tidak dapat bekerja di instansi yang diinginkan, mungkin semakin tidak nyaman dengan kondisinya tersebu.

Namun, bisa jadi justru sebagian dari kita yang dianggap kurang beruntung tersebut mendapatkan kenyamanan hidup yang tidak dapat didapatkan jika kita bekerja di instansi yang dahulu kita inginkan. Bisa jadi dengan "kegagalan tersebut" kita mendapat peluang peluang kebaikan yang tidak dapat kita dapatkan ketika kita bekerja di instansi yang dulu kita inginkan. Dapat berwiraswasta dan membuka lapangan kerja misalnya, atau bergabung di Ormas atau LSM yang dapat membantu menyelesaikan masalah masyarakat misalnya, atau berbakti mengurus orang tua yang sedang sakit, dan masih banyak kemungkinan peluang kebaikan lainnya.

Kalau kata orang Jawa, "urip iku sawang sinawang". Susah cari padan kata sawang sinawang di bahasa Indonesia. Kita itu cenderung senang membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Dan parahnya, kita kecenderungannya merasa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Rasanya zaman sekarang sangat sedikit orang yang merasa sangat bersyukur dengan kehidupannya. Sehingga rata rata orang ingin menjadi seperti si X misalnya yang punya banyak waktu luang, atau seperti si Y misalnya yang punya kebebasan finansial. atau seperti si Z misalnya yang punya anak sholeh dan berbakti dengan orang tua. Ya, hidup itu memang "sawang sinawang".

Memahami Galau

Opini pribadi tentang istilah "Galau"

Kegalauan yang dirasakan seseorang bisa jadi menunjukkan seseorang sedang berfikir, bisa jadi berfikir tentang masa depan, berfikir tentang dakwah dan islam.
Kegalauan juga bisa jadi menunjukkan bahwa seseorang tersebut adalah orang yang peduli dengan perasaan orang lain, karena kegalauan sering pula terjadi karena memikirkan perasaan orang lain.

Sehingga, kegalauan tidak selalu merupakan hal yang negatif, bisa jadi kegalauan adalah suatu proses bahwa kita sedang berkembang menjadi lebih baik. Karena galau dapat pula terjadi karena kita memikirkan tentang masa depan kita yang lebih baik, bahkan bisa pula memikirkan masa depan ummat Islam yang lebih baik. Bila demikian, tidak ada salahnya menjadi galau, atau dalam kata lain, galau dalam kebaikan, hehe.

Alasan listrik PLN mati

Curhat Tukang Listrik bagian 3

"Tulisan ini sedikit menjelaskan mengapa listrik terkadang tiba tiba mati tanpa pemberitahuan"

Sejak menjadi bagian dari perusahaan listrik plat merah ini, rasanya listrik dan perusahaan ini sudah menjadi bagian dari diri saya. Ketika perusahaan ini dicaci maki, ketika dinggap sarang korupsi, atau ketika listrik mati. Duh, rasanya bernafas saja rasanya menjadi kurang nyaman. Rasanya serba tidak nyaman dan merasa bersalah. Ketika listrik mati, entah berapa ratus kali telepon di kantor PLN berdering, dan ketika diangkat entah berapa jenis kata kata kotor atau penduduk kebun binatang yang dipanggil. Astagfirullah, ujian kesabaran memang.

Kalaupun sedang tidak piket, atau bahkan sedang tidak berada di daerah kerja saya, ketika pulang ke rumah misalnya. Kemudian listrik mati, walaupun seharusnya tidak ada hubungan langsung apalagi tanggungjawab saya tapi rasanya tetap tidak nyaman dan penuh rasa bersalah. Entah kenapa, sering kali ketika melihat ada daerah yang sedang mati listrik, rasanya sangat tidak nyaman bahkan hanya untuk sekedar bernafas. Agak lebay mungkin bagian ini, tapi rasanya memang demikian.

Mungkin memang banyak orang yang merasa terganggu bila listrik mati, namun sebenarnya PLN lebih merasa terganggu daripada orang orang tersebut. PLN ada karena mau jualan listrik, kalau listrik mati ya PLN tidak dapat jualan listrik, tidak ada yang dijual brarti tidak ada pemasukan ke perusahaan, simple nya seperti itu. Ketika listrik mati, maka petugas PLN akan dipusingkan mencari penyebab gangguan untuk menyalakan kembali daerah yang padam. Mencari penyebab pemadaman dilakukan dengan menyusuri jaringan listrik untuk melihat kejanggalan yang ada. Mungkin ada ranting yang menyentuh jaringan, atau layang layang tersangkut, atau bahkan ada peralatan yang rusak. Kemudian kalaupun terpaksa harus padam, karena perbaikan atau gangguan tidak dapat segera dihilangkan, maka diupayakan daerah yang padam dapat seminimal mungkin.

Pengalaman Lucu di Tana Toraja

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi bagian 5

Berkesempatan untuk tinggal bebapa bulan di Sulawesi Selatan, sayang rasanya kalau tidak mengunjungi Tana Toraja. Toraja adalah nama Suku, sekaligus juga kota. Ada apa disana? intinya cuman lihat kuburan, lihat mayat mayat manusia yang berserakan dimana mana, tapi yang banyak terlihat berserakan sih yang sudah tinggal tulang belulang. Mayat mayat yang usianya sudah lebih dari 20 tahun. Budaya yang cukup aneh menurut saya, bukan unik lho ya.... aneh. Mayat keluarga mereka tidak dikubur, namun hanya dibalsem dan dimasukkan ke dalam peti dan diletakkan di dalam goa. Jadi kalau peti yang terbuat dari kayu itu rusak, ya jangan salahkan si mayat kalau dia nongol muncul berserakan di sepanjang jalan. BIla di Jawa, melihat sepotong kecil tulang di kuburan rasanya sudah ngeri banget, namun di Tana Toraja, melihat tengkorak manusia berjajar rasanya biasa saja. Yang lebih aneh lagi, mengapa mereka begitu nyamannya "mengeksploitasi" mayat leluhur mereka untuk meraup rupiah, dengan menjadikan makam leluhurnya sebagai objek wisata. Bagi kita yang muslim tentu hal seperti ini adalah hal yang sangat tidak biasa.

PLN ulang tahun ya?


Curhat tukang listrik bagian 2

 "Sedikit menjelaskan tentang biaya pasang baru listrik"


Di suatu siang di salah satu kantor pelayanan pelangan PLN. Seorang bapak dengan pakaian lusuh yang sepertinya habis dari ladang terlihat ikut antri dengan beberapa orang lain yang hendak meminta/mendaftar pelayanan dari PLN. Nampak sekali sisa lumpur di baju dan sendal yang dipakainya. Setelah lama mengantri akhirnya namanya dipanggil, dan dengan penuh antusias bapak tersebut bertanya kepadan petugas PLN.

Bapak : Pak, PLN lagi ulang tahun ya?

Petugas PLN : Ndak pak, memang kenapa?

Bapak : Sampai kapan daftar bayar listrik murah seperti ini?, saya sekarang belum ada uang, boleh ndak saya daftar dulu, mumpung murah. Nanti kalau saya sudah ada uang saya lunasin

Petugas PLN : Ndak lagi ulang tahun pak, memang harganya selalu seperti ini. Asalkan bapak daftar sesuai prosedur PLN biayanya ya seperti ini saja.

Bapak : Ya sudah pak trimakasih, saya kumpulkan uang dulu untuk daftar listrik.

Ngomongin Nikah

Beberapa bulan terahir entah mengapa nikah seolah menjadi topik wajib yang harus dibicarakan ketika chatting dengan teman lama. Baik itu teman di Kampus, atau teman waktu sekolah dahulu.  Topik ini selalu saja menarik untuk dibicarakan padahal pertanyaan nya selalu standar dan itu itu saja, “gimana sudah nikah belum?”, “rencana kapan nikah?”, dan pertanyaan sejenisnya.
Ketika habis topik yang pengen dibicarakan ketika chatting, dan bingung mau ngobrolin apa, maka topik tentang nikah menjadi hot topik yang selalu saja membuat obrolan menjadi hangat. Tidak jarang topik ini membuatku tertawa terbahak bahak ketika mendengar celoteh dari teman teman lama yang asik membicarakan nikah.
Namun ternyata topik ini memang benar benar topik pererat ukhuwah. Teman yang mungkin agak pendiam dan jarang berkomunikasi dapat menjadi sangat “exited” ketika membicarakan topik ini. Dan tidak seperti beberapa topik lain, topik ini cenderung tidak mudah menyinggung perasaan orang lain.

Kapan mi masuk listrik?

Curhat Tukang Listrik bagian 1

Seorang anak kecil yang lugu dengan pakaian SD nya mendatangiku dan menanyakan pertanyaan itu. Di Sulawesi Selatan, rumpun bahasa di sini (Bugis, Makassar, Toraja) mengunakan kata “mi”, “ki” atau “ji” di sela atau akhir kalimat. Misal : “Sudah makan ki?”, “harganya sudah pas ji”, hampir setiap bicara selalu menggunakan potongan kata “mi”, “ki” atau “ji” tidak pernah terlupa.

Siang itu kami ikut pekerjaan pemasangan tiang JTM. JTM adalah Jaringan Tegangan Menengah, kalau di Indonesia (PLN) memakai tegangan 20.000 V. JTM ini yang digunakan untuk mendistribusikan listrik ke pelanggan sebelum nantinya diturukan menjadi 220 V dan dinikmati pelanggan. Bila suatu daerah tidak kita temukan JTM maka hanya ada 2 kemungkinan pertama adalah daerah tersebut belum dapat menikmati listrik PLN sejak Indonesia Merdeka atau terpaksa menggunakan JTR (Jaringan Tegangan Rendah) untuk mengalirkan listrik. Karena mendistribusikan listrik menggunakan tegangan rendah (220 V) maka tentu kualitas nya akan jelek terutama untuk jarak yang cukup jauh (>400m).
Untuk kasus yang kami kerjakan kemarin, beberapa rumah sudah “terpaksa” menggunakan JTR sepanjang lebih dari 2 km untuk mendapatkan listrik. Namun ada beberapa rumah yang belum mendapat listrik.

Pertanyaan anak kecil itu begitu dalam bagiku, “kapan mi masuk listrik?” dengan logat bugis yang kental dan penuh harap anak itu bertanya kepadaku. Tentu dia berharap listrik di daerahnya segera “ lancar” sehingga dia dan tetangganya dapat menikmati listrik dengan kualitas yang lebih baik juga membuat beberapa rumah yang belum mendapat sambungan listrik dapat mendapatkanya.

Pernikahan Bugis dan Uang Naik (Panai')

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi bagian 4

Pakaian adat Sulawesi Selatan
Tidak seperti daerah lain yang menggunakan mahar sebagai salah satu syarat pernikahan. Di Bugis selain Mahar ada uang naik (panai') yang harus disipakan ketika sebelum memutuskan untuk menikah.
Uang panai' ini adalah sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang akan digunakan untuk keperluan mengadakan pesta pernikahan dan belanja pernikahan lainnya. Uang panai' ini tidak terhitung sebagai mahar penikahan melainkan sebagai uang adat namun terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak atau keluarga.

Uang panai' untuk menikahi wanita bugis-makassar terkenal tidak sedikit jumlahnya. Dari informasi yang saya terima tingkat strata sosial wanita serta tingkat pendidikannya biasanya menjadi standar dalam penentuan jumlah uang naik. Jadi, jika calon mempelai wanita adalah keturunan darah biru (biasanya namanya ada Andi nya), maka uang naiknya akan berpuluh-puluh juta. Begitupun jika tingkat pendidikan calon mempelai wanita adalah S1, S2, atau Kedokteran, maka akan berlaku hal yang sama.

Rumah Bugis Dapat Dipindah

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi bagian 3

Di Sulawesi Selatan, sebagian besar rumah nya adalah rumah adat. Rumah adat Suku Bugis disebut rumah panggung, terbuat dari kayu dan dipanggung, tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

Saya pernah bertanya kepada penduduk setempat, kenapa membuat rumahnya kok dipanggung, tidak diatas tanah langsung. Ternyata beliau belum bisa menjawabnya, ya hanya dijawab dengan ini adat mas. Tidak seperti di Jawa yang rumah rumah Joglo sudah semakin ditinggalkan, di Bugis rumah panggung justru menjadi primadona dan status sosial. Ketika seseorang mampu mendirikan rumah panggung yang bagus, besar dan terbuat dari kayu ulin, jenis kayu yang sangat keras, maka status sosialnya di masyarakat sekitarnya akan meningkat.

Membuat rumah adat bugis dengan kayu ulin memang sangat mahal, saat ini biayanya bisa mencapai milyaran rupiah, bagaimana tidak, jumlah kayu ulin yang semakin terbatas, dan penebangan liar yang semakin dibatasi pemerintah membuat usaha dan biaya untuk mendapatkan kayu jenis ini sangat besar. Sehingga rata rata rumah panggung yang baru dibangun tidak menggunakan kayu ulin, walau dari segi kualitas dan daya tahan belum ada kayu yang menandingi kualitas kayu ulin, begitu cerita salah seorang bapak di kantor tempat kami mengais rejeki.

Suku Bugis Sangat Menghargai Pendatang

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi Bagian 2

Suatu ketika kami sekontrakan memberikan sebungkus kue yang dibeli di pinggir jalan kepada tetangga sebelah kontrakan yang kebetulan adalah rekan kerja di kantor tempat kami sekontrakan mengais rupiah. Beberapa hari kemudian kami dibalas dengan undangan makan makan besar yang benar benar besar. Kami jadi merasakan beberapa makanan khas Bugis yang cukup aneh mungkin bagi lidah Jawa, seperti Lawa ikan, katanya sih dibuat dari ikan Seribu yang masih segar, kemudian ketika masih mentah ditumbuk halus dan dicampur dengan mangga muda, parutan kelapa, dan jeruk nipis.

Juga ada makanan bernama Sambal Dabu dabu, semacam sambal yang dibuat dari daun kemangi, tomat, cabai, dan kecap, namun semuanya tidak ditumbuk halus apalagi disangrai, cukup dipotong keci kecil dan dicampur begitu saja. Selain itu ada beberapa makanan lain yang tidak jauh berbeda dengan di jawa seperti Sop Tulang, sayur bayam, bakwan, dan beberapa jenis ikan yang digoreng. Karena Pare pare berada di pesisir Pantai, maka disini banyak tersedia ikan ikan segar, mantab!

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi

Menjadi Musafir di Pulau Sulawesi Bagian 1

Dalam rangka memenuhi kewajiban  sebagai abdi negara membuatku harus mendamparkan diri di salah satu pulau dengan bentuk paling unik di Dunia, sebuah pulau yang sangat besar, dan menyerupai huruf K. Ya pulau sangat indah ini bernama Sulawesi.

Aku tinggal di kota tempat lahir satu satu nya presiden Indonesia dari luar suku Jawa, sekaligus salah satu tokoh Indonesia paling keren yang pernah kukenal, BJ Habibie. Ya, kota itu bernama Parepare, sebuah kota kecil di pantai barat Sulawesi, kota yang cukup sederhana. Mereka bilang ini adalah kota terbesar kedua di propinsi paling maju di Indonesia Timur (yaitu Sulawesi Selatan), namun sangat sederhana. Disini tidak akan kita temukan Bioskop apalagi 21, disini tidak dapat kita temukan Mal, apalagi Carefour, disini juga tidak ada PTN apalagi UGM :D.

Meskipun demikian mereka menyebut Parepare sebagai kota terbesar kedua di Sulawesi Selatan, namun nampaknya memang demikian, dibandingkan kabupaten kabupaten lain di Sulawesi Selatan kondisi Parepare dapat dibilang "lebih mendingan". "Ternyata kondisi pembangunan di luar jawa sangat memprihatinkan, bila seperti ini Sulawesi Selatan, bagaimana dengan Maluku dan Papua?", demikian gumamku dalam hati.
Powered by Blogger.

Mutiara Hikmah

Yang Sedang Banyak Dibaca

Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Sahabat Bloggerku

Komentar Komentar Terbaru

International opportunities

Eramuslim

Web hosting for webmasters